Sepuluh Hari Yang Mengguncang Indonesia (tragedi mei 1998) ASIAWEEK investigation 24th july 1998 | http://danudika.wordpress.com/2012/08/07/sepuluh-hari-yang-mengguncang-indonesia-tragedi-mei-1998-asiaweek-investigation-24th-july-1998/

Membaca tulisan di atas membuat gue ngeri setengah mati. Ngeri sebagai seorang manusia dan ngeri sebagai seorang perempuan.

Sekaligus membuat gue bertanya-tanya, mana yang benar dan mana yang salah? Mestikah kebenaran dibuka secara vulgar di muka umum? Kapankah waktu yang tepat untuk menelanjangi kebenaran tersebut? Tidak bisakah kita hidup seakan berdiri di atas panggung dan memakai topeng yang sama dengan ratusan orang lainnya sehingga aman dan tak terlihat? Bukankah membuka topeng sama halnya seperti menabur garam di atas luka?

Bolehkah sejenak kita pura-pura lupa bahwa kita pernah terluka?

Tetapi bukankah hidup adalah duka yang salah? Bahkan secara mudah dapat kita simpulkan bahwa kehidupan manusia di bumi tidak lain dari sebuah kesalahan, sebab dua makhluk yang Tuhan ciptakan dari tanah itu memakan buah yang terlarang.

Lebih mudahkah bila kita sekedar menikmati luka?

Tapi bukankah memang kita menikmati luka? Mengingat kata Eka Kurniawan bahwa, “Cantik Itu Luka” maka sepertinya setiap hari kita menikmati luka.

*rasanya jadi ingin membaca ulang Pulang.

View on Path

Hal Tidak Penting Setelah Membaca Posisi Kursi dalam Sebuah Hubungan yang Tidak Penting-Penting Amat

“Ya, ekskresi tak pernah dianggap sepenting ereksi.”

Bukan. Gue tidak sedang akan membahas ekskresi atau ereksi yang oleh anak-anak seumuran gue dianggap sama kadar joroknya.

Satu kalimat itu gue kutip dari cerpen karya Zen RS. dengan judul Kursi dalam Sebuah Hubungan yang Tidak Penting-Penting Amat.

Cerpen itu bercerita tentang Ireng, laki-laki berusia 34 tahun yang tidak pernah membiarkan teman kencannya duduk berhadapan dengan dirinya. Selalu di sebelahnya.

“Jika mejanya terlalu kecil untuk duduk bersebelahan, Ireng akan meminta perempuan yang dikencaninya untuk duduk di sisi kanan atau di kiri, pokoknya tidak di depannya,” begitu katanya.

Menurut si tokoh utama, bersebelahan akan mempertahankan kedangkalan sebuah hubungan. Oh ya, hubungan yang tidak penting-penting amat memang harus dijaga kedangkalannya. Bila dipaksa berhadapan akan menimbulkan kepura-puraan. Menurut si Ireng, kepura-puraan jauh lebih buruk dari kedangkalan.

Tapi toh pada akhir cerita, Ireng dipertemukan dengan seorang teman kencan yang membuat ia ingin duduk berhadapan. Memulai sebuah hubungan penting.

Lalu apa hubungannya dengan ekskresi dan ereksi? Kalau dipikir-pikir sepertinya memang tak ada. Ketika membaca sesuatu, gue biasanya akan menemukan penggalan-penggalan yang membuat gue berdecak kagum. Kemudian memaknai penggalan tersebut secara personal. Selanjutnya lupa memaknai keseluruhan cerita.

Kebiasaan ini menyulitkan, sebab gue jadi lebih bisa mengoleksi informasi (yang gue sukai) ketimbang menganalisis keseluruhan informasi. Sial.

***

Kembali pada cerpen tersebut, gue menyukai sifat Ireng yang ringan, juga jujur dan apa adanya. Padahal kalau kata Tulus kan, “jangan cintai aku apa adanyaa~.”

Juga menyukai cara si penulis membentuk karakter Ireng. Beberapa kalimat penjelasan mungkin membuat manusia-manusia berkecepatan tinggi zaman sekarang berkata, “aduh buruan dong! Inti ceritanya apaan?” Padahal kalimat-kalimat penjelas lah yang menghidupkan karakter tokoh.

Berikut penggalan dari cerpen Kursi dalam Sebuah Hubungan yang Tidak Penting-Penting Amat :

“Kamar hotel? Ya, selalu kamar hotel. Kenapa tidak diajak ke rumah saja? Lha, kenapa memang kalau di hotel dan kenapa memang jika selalu di kamar hotel? Tak pernah, sekali pun tak pernah, Ireng mengajak teman kencannya ke rumah, begitu juga sebaliknya, Ireng tak pernah mau jika diajak ke rumah teman kencannya.

Sungguh, sebenarnya tak ada yang terlalu memalukan dari rumah Ireng. Biasa saja, seperti halnya rumah-rumah yang lain. Letaknya agak di pinggiran kota, tak jauh dari sebuah pintu tol yang tak terlalu ramai. Ia merasa rumah adalah tempat yang terlalu pribadi, semacam sanctuary, yang ia enggan berbagi kecuali dengan dirinya sendiri. Itu alasan yang tidak terlalu aneh, bukan? Ya, biasa saja. Setiap orang memang butuh privasi. Di momen-momen tertentu privasi bisa berarti kesendirian yang tak terganggu siapa pun dan apa pun. Bahkan orang dengan kecanduan akut pada keramaian pun punya saat-saat khusus di mana ia harus sendiri; kadang hanya untuk tidur lelap, mungkin hanya untuk buang air besar dengan nyaman karena peristiwa buang air besar masih dianggap memalukan. Ya, ekskresi tak pernah dianggap sepenting ereksi.”

Kalau melihat alur ceritanya, rasanya tak penting membaca deskripsi tersebut. Kenapa tidak langsung to the point saja?

Jawabannya menurut gue adalah, tak ada yang lebih indah dari mengenal jalan pikiran seseorang. Setuju?

Kemudian gue jadi teringat bagaimana buku-buku atau cerita-cerita yang menurut gue bagus mendeskripsikan tokohnya. Terlihat agak panjang, kadang bertele-tele, dan bisa sedikit larut dalam menjelaskan hal-hal yang tak ada sangkut pautnya dengan cerita utama.

Eitss, tunggu dulu! Justru deskripsi-deskripsi seperti itu, gue rasa, menghidupkan si tokoh. Setiap manusia pasti memiliki jalan pikirannya tersendiri dan itu menjadi salah satu hal yang membuat manusia yang satu dengan yang lain punya keunikan tersendiri.

Melihat ada cukup banyak orang yang tidak suka membaca buku (terlebih fiksi yang tebal), jangan-jangan menunjukkan bahwa orang-orang kini lebih mementingkan penampilan daripada pemikiran!

Walau dangkal, penampilang barangkali lebih baik dari pemikiran yang pura-pura. Atau bahkan plagiat. Tapai bagaimana bila kini kebanyakan kita memuja penampilan yang pura-pura, bahkan plagiat?

Sudah dangkal, pura-pura lagi!

Lagipula, bila lebih suka mendengar kuliah umum ketimbang membaca kan bisa menunjukkan kemalasan seseorang. Membaca memaksamu berpikir, memang. Sedangkan kuliah umum lebih sering membuat kita melongo dan mengangguk-angguk setuju sebelum kemudian menelan mentah-mentah hasil analisis orang lain.

Alih-alih pendengar yang baik, jangan-jangan kita cuma malas memaksimalkan kemampuan otak?

***

Layar hp gue menunjukkan pukul 01.39. Ya wajarlah bila bahasan gue jadi tidak jelas kemana arahnya. Anggaplah seperti ekskresi dan ereksi, hal-hal yang kasat mata tidak penting bisa jadi jauh lebih penting dari hal-hal penting.

Bukannya pada cerita-cerita detektif petunjuk penting justru lahir dari hal-hal yang tak pernah diduga?

Selamat pagi buta! (atau pagi/siang/malam, tergantung kapan kamu membacanya).

-trika-

catatan :
1. Judulnya panjang, ya? :D
2. Cerpen tersebut bisa kalian baca di http://seratkata.net/2014/05/09/kursi-dalam-sebuah-hubungan-yang-tidak-penting-penting-amat/ | Selamat membaca ;)

ter-a-lih

ter·a·lih v berpindah (secara tidak sengaja)

Gue memiliki fokus yang kualitasnya cukup rendah. Tidak bisa bekerja pada satu hal saja sampai hal itu selesai. Selalu ada hal-hal yang membuat fokus gue teralih. “Berpindah (secara tidak sengaja),” kalau kata http://www.kbbi.web.id.

Gue sering terjebak pada kondisi di mana gue mengerjakan dua atau lebih hal sekaligus. Contohnya sekarang ini. Di mana gue sedang (mencoba) membuat sebuah cerpen dan berusaha mendengarkan lagu secara detil, di mana hal itu membuat gue beberapa kali berhenti menulis dan kemudian ikut menyanyikan si lagu sembari menebak-nebak dengan sok tahu tentang tempo, ritme, atau makna lagunya. Kemudian berpikir, “wah gue gampang banget kehilangan fokus.” Dan selanjutnya memutuskan untuk menulis tulisan ini.

Belum. Cerpen gue belum selesai. Masih mentok di halam pertama. Di mana seharusnya gue minimal mencapai 2,5 halaman. Tapi rasanya sulit sekali. Melanjutkan hingga 2.5halaman. Kenapa gue lebih mudah menulis puisi ya? Tapi kalau ingin menerbitkan puisi, gue harus mengumpulkan setidaknya 100puisi, sedangkan baru berhasil mengumpulkan 25an puisi. Aduh, sulitnya.

Tapi abaikan paragraf yang itu.

Dan tiba-tiba, sekarang gue kehilangan arah tujuan menulis ini. Entah ya, barangkali itu salah satu petunjuk bahwa fokus gue mudah teralih.

-trika

*Pada kalimat terakhir itu, yang benar teralih atau teralihkan ya? Hemm…

Menyoal Pemilu Legislatif 2014

Kalau lo mengikuti akun instagram atau path gue, lo akan menemukan bahwa gue begitu semangat mengajak orang-orang untuk berpartisipasi dalam pemilu legislatif besok.

Bukan. Ini bukan euforia sesaat anak muda yang untuk pertama kalinya akan ikut memilih langsung wakil rakyat. Bukan juga sok-sok paham politik dan mau pamer jari ungu di hari esok.

Gue menyadari bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah penduduk muda yang membludak. Tentu saja hal ini ikut mempengaruhi jumlah orang yang terdaftar sebagai pemilih. Pun gue menyadari bahwa akan ada banyak anak muda yang menganggap libur umum pemilu sebagai hari libur tambahan, alias memilih untuk golput. Inilah hal yang sangat gue sayangkan.

Ya, gue memahami bahwa hal-hal yang berbau politik di zaman sekarang nyaris selalu dihindari. Ironisnya, oleh mereka yang masih muda dan (justru) terpelajar. Padahal politik bukan sekadar soal siapa kawan-siapa lawan, sikut kanan-sikut kiri, atau kompetisi kotor pemangku jabatan di bangku pemerintahan. Pemahaman gue (pemahaman seorang anak kelas 3 sma yang senang sosiologi dan pramoedya), politik adalah strategi, hal yang sebetulnya kita lakukan sehari-hari. Lebih luas, maka politik adalah soal kebijakan atau bicara soal “bagaimana cara mengatasi” permasalahan yang menyangkut kesejahteraan banyak orang.

“Ketika diterapkan dalam praksis bernegara di Yunani Kuno, politik memperlihatkan esensinya yang agung, yakni aktivitas menata masyarakat agar berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan.” -Mengembalikan Esensi Agung Berpolitik, M.Suntoyo (ANTARA News)

Kalau kita memahami politik seperti pada kutipan di atas, gue rasa kita semua akan sadar bahwa ikut aktif berpartisipasi dalam politik negara merupakan hal yang penting. Dan karena kita masih muda, setidaknya partisipasi aktif itu bisa kita wujudkan dengan cara ikut nyoblos pada tanggal pemilu.

Dan tentu saja, sebagai orang yang mengagumi para pahlawan negara, gue mempercayai kata-kata Moh. Hatta. Kata beliau, “di tangan pemuda sekarang terletak sebagian besar nasib rakyat dikemudian hari.”

Gue sih merasa ikut bertanggung jawab dalam menentukan nasib rakyat Indonesia di kemudian hari. Gue merasa bahwa seluruh tumpah darah para pahlawan pembangun negara mesti dibayar oleh kita-kita yang menikmati kemerdekaan. Dengan tindakan sekecil apapun itu. Misalnya, ya dengan ikut mencoblos. Menentukan siapa orang yang lo pilih untuk jadi mata, telinga, dan mulut lo di bangku pemerintahan.

Kalo belom kenal sama caleg di dapil lo, lo bisa cek websitenya kpu atau website OrangBaik (www.orangbaik.org). Di website OrangBaik, lo bisa melihat caleg-caleg sesuai dapil. Sekaligus di web itu ada penilaian dan cv tiap-tiap caleg.

Sekali lagi, guys.

Bukan. Ini bukan euforia sesaat anak muda yang untuk pertama kalinya akan ikut memilih langsung wakil rakyat. Bukan juga sok-sok paham politik dan mau pamer jari ungu di hari esok.

Ini soal gue yang pengen menggunakan kekayaan anak muda yang paling berharga, alias idealisme gue selagi masih muda, sebab akan ada titik di mana tiap manusia menjadi kecewa dan tidak lagi punya idealisme.

Ini soal gue yang mengajak kalian untuk sebentar saja menghentikan sikap skeptis khas anak muda. Karena gue yakin, pada pemilu 2014 ada secercah harapan baru buat Indonesia.

Masalahnya sekarang, apakah lo cukup berani untuk mendekati dan mempelajari secercah harapan itu?

-trika

*catatan : kalau ternyata semua caleg di dapil lo mengecewakan, setidaknya datang ke tps dan buat surat suara lo jadi tidak sah. jangan golput dan diam di rumah, sebab kita tidak pernah tahu apakah ada atau tidak orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

“Duh, pemilu legislatif tuh ribet deh. Calonnya banyak banget. Mana tau mau pilih siapa… golput ah, itung-itung libur tambahan.”

Banyak jalan menuju Roma, bos. Dan Tuhan selalu mempermudah jalan bagi orang-orang yang mau berusaha.

Untuk pemilu besok, lo bisa cek http://www.orangbaik.org untuk ngeliat siapa aja caleg di dapil lo. Plus lo bisa lihat penilaian dan cvnya.

Gue berani ikut menentukan masa depan Indonesia di hari esok. Apakah lo cukup berani untuk peduli?

Selamat merayakan pesta demokrasi, guys! ;) – with Zhafarina Ayu, maulana, Nadya Avitri, Dira, Diesty, Ardiyanto , Athena, Sharima, Zarra, Trisha, Sekar, Naomi, Syifa, Nadira, Aldi Wiradwipa, Rininta, Mayanov, Anindya, Ricky, Renisa, Nada, Adinda, Naufall, Brigitta, Nabilla, Haritsya, Damar, Nabila, Rafid, and Raisa

View on Path

Maya oleh Ayu Utami (kutipan)

Aku mencintai dia dengan cinta seorang perempuan pada lelaki yang luka. -hlm. 15

Baginya cukuplah ia punya agama; semua orang normal di Indonesia berlangganan agama. -hlm15

Suara-suara dari luar memang membuat kita tuli untuk mendengar suara-suara dari dalam. -hlm. 20

Meskipun itu artinya orang suka memberi daripada menerima…. Khususnya dalm hal kata-kata. Hehe. Itu juga berarti orang lebih suka menerima daripada memberi…. Dalam hal perhatian. -hlm. 21

Bagaimana aku bisa mengakui dosa-dosaku dan membukakan harapanku? -hlm. 22

Ada dua hal yang membuatmu kebal santet. Hati yang murni dan rasa humor. Ilmu hitam tak akan mengenai orang yang melihat dunia dengan lucu. Lebih mudah memiliki humor daripada hati murni. Tapi berusahalah agar hatimu murni. -hlm. 53

Adakah waktu yang tepat bagi kejujuran? -hlm. 92

Bahkan yang paling rupawan di tempat ini pun tidak normal. Lalu, apakah normal itu. -hlm. 103

Tapi, sekali kau memberi makan keserakahan, keserakahan itu tak akan bisa kenyang. -hlm. 105

Tapi saya sudah diperingatkan oleh ayah saya bahwa saya tidak boleh membodoh-bodohi orang lain, apalagi guru. Biarpun saya lebih pintar. Jadi saya diam saja. Meskipun itu terasa aneh : bukankah saya membiarkan kesalahan? -hlm. 130

Apakah harga seorang manusia? -hlm.210

Kepercayaan adalah bagian dari yang membuat manusia hidup. Kepercayaan bahkan bisa menghidupkan manusia yang sudah mati. -hlm. 232

Tidak semua mata tahan dengan terang pengetahuan. Tak semua bunga bisa dipetik dan dihidangkan dalam vas. -hlm. 243

image