Jam pelajaran 5-6, kelas gue X-5 belajar Bahasa indonesia. Mengulang soal frase dan klausa sebentar, terus ngerjain soal pilihan ganda dan uraian. Di bagian uraian nomor empat, kita diminta untuk menulis puisi dengan pencitraan pendengaran. Karena penasaran, pulang sekolah gue ke ruangan Bahasa Indonesia dan baca puisi anak-anak di kelas gue. Deretan post puisi di bawah itu adalah puisi-puisi yang menurut selera gue bagus. Bagus dalam artian menyeret rasa gue dan terasa jujur. Gue baru izin ke dua anak sih untuk nyantumin puisinya. Yang lain belakangan yaa, hehehe :) Omong-omong, puisi yang dibikin sama anak lain juga bagus kok, cuman 6 puisi yang lain (selain puisi gue) itu puisi yang paling gue suka.
Melihat hal ini, gue jadi makin takjub sama kelas gue. Berkali-kali gue merasa kaget dan takjub ngeliat kelas gue yang sekarang ini. Ini jelas kelas yang paling sering bikin onar dan rajin diomongin di rapat guru. Tapi dibalik keributan -yang membuat gue yakin bahwa harusnya telinga sekalian aja diciptain 4- itu, kelas ini bisa jadi kompak banget. Bukan jenis kompak yang kompak gitu. Heem, kompak yang bisa diajak mengerti dan kerjasama. Kompak yang tidak menyisihkan seseorang. Ini pertama kalinya gue bisa merasa nyaman dengan 27 orang di kelas yang karakternya aneh-aneh semua. :)
Diluar karakter, bakatnya juga macam-macam semua.
- Mulai dari yang ngitungnya super duper cepet ya, bikin gue pengen nangis…
- Terus yang suka diem-diem aja, tapi nilainya kece abis dan jago gambar.
- Yang keliatannya kalem, tapi ternyata ada yang suka lagu metal, ada yang ketawanya membahana banget.
- Yang suka lari-lari di kelas dan teriak-teriak, tapi ternyata punya kedalaman pikiran yang menarik.
- Yang pada jago olahraga + punya jiwa kepemimpinan.
- Yang keliatannya asal dan apatis, tapi tidak pernah lupa sama senyum dan 3 kata ajaib (maaf, tolong, terima kasih).
- Yang keliatannya sinis, tapi aslinya manis dan jago nulis.
- Yang suka nyengir-nyengir ketawa, tapi bisa diajak ngobrol serius.
- Yang keliatannya pemalas, tapi bacaan bukunya bikin gue bengong.
- Yang suaranya nongol-nongol nggak, tapi ternyata memperhatikan dan suka bikin teori baru -macam ilmuwan saja, hahaha-.
- Yang suka banyak nanya, tapi kalau udah gambar-gambar gitu fokus banget.
- Yang suka malu kalo tampil, tapi di kelas suara merdunya sering menggema.
- Yang tiba-tiba suka ngilang dari kelas, tapi sekalinya ngomong bijak dan ga memihak.
- Yang suka panikan, tapi sebetulnya mikirin kelas.
- Yang terlihar cukup rajin belajar, tapi menyimpan cita-cita yang lain.
- Yang suka berisik sendiri, tapi di rumah sepertinya rajin belajar.
- Yang suka dikatain lebay, tapi kalo udah serius raut mukanya berubah drastis
- Yang…… Hahaha, gue ga berani mendeskripsikan diri gue sendiri :P
Seseorang bilang ke gue, “Trik, kelas lo sih udah lebih tinggi tingkatnya.” Maksud dia, kelas gue itu bukan tipikal murid yang rajin belajar, meraih nilai bagus. Seseorang itu semacam bilang kalo sepertinya anak-anak di kelas gue itu tipe pemikir. Semacam orang-orang yang bukan belajar pelajaran sekolah dan dicekokin gitu aja. Heem, gitulah. Gue bingung gimana cara menjelaskannya.
Sekalipun gue bilang ini kelas terseru dan terngena, kalo gue ada di posisi guru pasti gue udah nangis-nangis. Ya faktanya sih memang ada guru yang berhasil dibikin nangis. Tapi dari kelas ini, gue jadi mendapat suatu pelajaran dan bekal buat jadi guru nanti. Bahwa seperti apapun muridnya, jangan sampai kita melabel anak. Mau sebandel apapun, teruslah tersenyum kepada anak. Murid butuh guru yang tegas, konsisten, dan jujur. Dan yang penting lagi, murid harus merasakan kepercayaan dan diberikan oleh guru, sehingga murid akan jadi orang yang bertanggungjawab.
Tuhan meletakkan gue di kelas X-5 tentu dengan maksud baik. Sumpah, ini kelas jadi bahan observasi gue banget supaya gue lebih siap pas nanti jadi guru. Pas nanti udah jadi guru dan nemuin kelas yang rusuh, gue pasti akan inget X-5. Iyap kawan-kawan, kalian terlalu membekas di hati gue. Semoga sampai tua nanti kita akan saling mengenang tanpa sempat lupa. Love you guys!