Menyoal Pemilu Legislatif 2014

Kalau lo mengikuti akun instagram atau path gue, lo akan menemukan bahwa gue begitu semangat mengajak orang-orang untuk berpartisipasi dalam pemilu legislatif besok.

Bukan. Ini bukan euforia sesaat anak muda yang untuk pertama kalinya akan ikut memilih langsung wakil rakyat. Bukan juga sok-sok paham politik dan mau pamer jari ungu di hari esok.

Gue menyadari bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah penduduk muda yang membludak. Tentu saja hal ini ikut mempengaruhi jumlah orang yang terdaftar sebagai pemilih. Pun gue menyadari bahwa akan ada banyak anak muda yang menganggap libur umum pemilu sebagai hari libur tambahan, alias memilih untuk golput. Inilah hal yang sangat gue sayangkan.

Ya, gue memahami bahwa hal-hal yang berbau politik di zaman sekarang nyaris selalu dihindari. Ironisnya, oleh mereka yang masih muda dan (justru) terpelajar. Padahal politik bukan sekadar soal siapa kawan-siapa lawan, sikut kanan-sikut kiri, atau kompetisi kotor pemangku jabatan di bangku pemerintahan. Pemahaman gue (pemahaman seorang anak kelas 3 sma yang senang sosiologi dan pramoedya), politik adalah strategi, hal yang sebetulnya kita lakukan sehari-hari. Lebih luas, maka politik adalah soal kebijakan atau bicara soal “bagaimana cara mengatasi” permasalahan yang menyangkut kesejahteraan banyak orang.

“Ketika diterapkan dalam praksis bernegara di Yunani Kuno, politik memperlihatkan esensinya yang agung, yakni aktivitas menata masyarakat agar berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan.” -Mengembalikan Esensi Agung Berpolitik, M.Suntoyo (ANTARA News)

Kalau kita memahami politik seperti pada kutipan di atas, gue rasa kita semua akan sadar bahwa ikut aktif berpartisipasi dalam politik negara merupakan hal yang penting. Dan karena kita masih muda, setidaknya partisipasi aktif itu bisa kita wujudkan dengan cara ikut nyoblos pada tanggal pemilu.

Dan tentu saja, sebagai orang yang mengagumi para pahlawan negara, gue mempercayai kata-kata Moh. Hatta. Kata beliau, “di tangan pemuda sekarang terletak sebagian besar nasib rakyat dikemudian hari.”

Gue sih merasa ikut bertanggung jawab dalam menentukan nasib rakyat Indonesia di kemudian hari. Gue merasa bahwa seluruh tumpah darah para pahlawan pembangun negara mesti dibayar oleh kita-kita yang menikmati kemerdekaan. Dengan tindakan sekecil apapun itu. Misalnya, ya dengan ikut mencoblos. Menentukan siapa orang yang lo pilih untuk jadi mata, telinga, dan mulut lo di bangku pemerintahan.

Kalo belom kenal sama caleg di dapil lo, lo bisa cek websitenya kpu atau website OrangBaik (www.orangbaik.org). Di website OrangBaik, lo bisa melihat caleg-caleg sesuai dapil. Sekaligus di web itu ada penilaian dan cv tiap-tiap caleg.

Sekali lagi, guys.

Bukan. Ini bukan euforia sesaat anak muda yang untuk pertama kalinya akan ikut memilih langsung wakil rakyat. Bukan juga sok-sok paham politik dan mau pamer jari ungu di hari esok.

Ini soal gue yang pengen menggunakan kekayaan anak muda yang paling berharga, alias idealisme gue selagi masih muda, sebab akan ada titik di mana tiap manusia menjadi kecewa dan tidak lagi punya idealisme.

Ini soal gue yang mengajak kalian untuk sebentar saja menghentikan sikap skeptis khas anak muda. Karena gue yakin, pada pemilu 2014 ada secercah harapan baru buat Indonesia.

Masalahnya sekarang, apakah lo cukup berani untuk mendekati dan mempelajari secercah harapan itu?

-trika

*catatan : kalau ternyata semua caleg di dapil lo mengecewakan, setidaknya datang ke tps dan buat surat suara lo jadi tidak sah. jangan golput dan diam di rumah, sebab kita tidak pernah tahu apakah ada atau tidak orang-orang yang tidak bertanggung jawab.


“Duh, pemilu legislatif tuh ribet deh. Calonnya banyak banget. Mana tau mau pilih siapa… golput ah, itung-itung libur tambahan.”

Banyak jalan menuju Roma, bos. Dan Tuhan selalu mempermudah jalan bagi orang-orang yang mau berusaha.

Untuk pemilu besok, lo bisa cek http://www.orangbaik.org untuk ngeliat siapa aja caleg di dapil lo. Plus lo bisa lihat penilaian dan cvnya.

Gue berani ikut menentukan masa depan Indonesia di hari esok. Apakah lo cukup berani untuk peduli?

Selamat merayakan pesta demokrasi, guys! ;) – with Zhafarina Ayu, maulana, Nadya Avitri, Dira, Diesty, Ardiyanto , Athena, Sharima, Zarra, Trisha, Sekar, Naomi, Syifa, Nadira, Aldi Wiradwipa, Rininta, Mayanov, Anindya, Ricky, Renisa, Nada, Adinda, Naufall, Brigitta, Nabilla, Haritsya, Damar, Nabila, Rafid, and Raisa

View on Path

Continue reading

Maya oleh Ayu Utami (kutipan)

Aku mencintai dia dengan cinta seorang perempuan pada lelaki yang luka. -hlm. 15

Baginya cukuplah ia punya agama; semua orang normal di Indonesia berlangganan agama. -hlm15

Suara-suara dari luar memang membuat kita tuli untuk mendengar suara-suara dari dalam. -hlm. 20

Meskipun itu artinya orang suka memberi daripada menerima…. Khususnya dalm hal kata-kata. Hehe. Itu juga berarti orang lebih suka menerima daripada memberi…. Dalam hal perhatian. -hlm. 21

Bagaimana aku bisa mengakui dosa-dosaku dan membukakan harapanku? -hlm. 22

Ada dua hal yang membuatmu kebal santet. Hati yang murni dan rasa humor. Ilmu hitam tak akan mengenai orang yang melihat dunia dengan lucu. Lebih mudah memiliki humor daripada hati murni. Tapi berusahalah agar hatimu murni. -hlm. 53

Adakah waktu yang tepat bagi kejujuran? -hlm. 92

Bahkan yang paling rupawan di tempat ini pun tidak normal. Lalu, apakah normal itu. -hlm. 103

Tapi, sekali kau memberi makan keserakahan, keserakahan itu tak akan bisa kenyang. -hlm. 105

Tapi saya sudah diperingatkan oleh ayah saya bahwa saya tidak boleh membodoh-bodohi orang lain, apalagi guru. Biarpun saya lebih pintar. Jadi saya diam saja. Meskipun itu terasa aneh : bukankah saya membiarkan kesalahan? -hlm. 130

Apakah harga seorang manusia? -hlm.210

Kepercayaan adalah bagian dari yang membuat manusia hidup. Kepercayaan bahkan bisa menghidupkan manusia yang sudah mati. -hlm. 232

Tidak semua mata tahan dengan terang pengetahuan. Tak semua bunga bisa dipetik dan dihidangkan dalam vas. -hlm. 243

image


Review : Novel Maya oleh Ayu Utami

Pramoedya Ananta Toer dan Ayu Utami sudah punya tempat di hati gue. Gue terlalu cinta sama mereka sampai-sampai apapun yang mereka tulis akan gue nikmati dan lolos dari kritik apapun. Gue nyaris puas. Mereka nyaris sempurna.

***

Sesuai dengan niatan pada Kalender Baca 2014, tidak hanya menuntaskan sebuh buku, gue juga menuliskan review kecil-kecilan. Pada bulan Januari ini, mestinya review pertama gue tulis untuk novel Maya oleh Ayu Utami. Eh tapi gue baru inget belum mereview novel Cinta.. Masih banyak lagi sih buku yang blum gue review. Senja di Jakarta nya Mocthar Lubis menyusul ya, wan-kawan ;)

Seperti yang sudah gue tulis di paragraf pertama, Ayu Utami selalu lolos dari kritik gue. Mungkin sebetulnya memang gue saja yang tidak mampu mengkritik. Belum saatnya. Juga gue sudah terlanjur jatuh cinta secara buta. Maka pada review ini gue akan teriak-teriak senang dan menulis kutipan-kutipan yang gue suka. Ahey! ;)

***

Tertulis pada sinopsis di sampul belakang, novel ini berlatarkan peristiwa reformasi. Tapi tunggu dulu, kalian nggak akan menemukan adegan demo mahasiswa yang bikin jantungan seperti yang dialami Lintang pada novel Pulang karya Leila S Chudori. Soalnya bro, tokoh yang diangkat di novel ini adalah tokoh lama, Yasmin dan Saman, tokoh yang dulu asik menghiasi dwilogi Saman dan Larung.

Maya terbagi menjadi tiga bab besar, Kini, Dulu, dan Kelak. Pada bab Kini dan Kelak, kita akan tinggal di padepokan Suhubudi. Pada bagian inilah diungkap apa dan bagaimana isi padepokan tersebut. Secara, di Bilangan Fu dan Manjali dan Cakrabirawa kita mengenal rumah Parang Jati ini sebagai tempat spiritualitas Jawa yang misterius. Ketika membaca dua bab ini, gue sibuk menganggukkan kepala dan ber-oh-ria.

Pada bab Dulu, kita diajak nostalgia! Jengjeng, sudut pandang beralih ke Saman, jauh sebelum Saman mengenal Yasmin, masa dimana namanya masih Wisanggeni. Bagian ini memang agak mengulang dari isi novel Saman, tetapi di dalamnya kita temukan juga kisah dan pengertian yang baru. Seperti tentang Saman yang pernah mengunjungi padepokan Suhubudi hingga mendapat cenderamata dari Parang Jati kecil. Juga lenih dalam tentang perasaan Saman terhadap Upi.

Oh God!! Parang Jati kecil menggemaskan sekali! Kepolosannya, gerak-geriknya, bahkan dari kecil sudah punya mata malaikatnya itu. Sebagai goodboy (beda sama si Yuda), Parang Jati jelas punya caranya sendiri untuk menarik perhatian.

***

Yang agak gue sayangkan pada novel ini adalah ketiadaan Yuda dan Marja. Ih, gue kangen sama dua anak itu :( Memang harus tidak ada sih, karena mereka baru bertemu setelah reformasi.

Menghilangkan kekecewaan karena tidak bertemu dengan Yuda maupun Marja, tokoh Yasmin dan Saman sebagai sentral cerita membuat gue berharap akan bertemu dengan sosok-sosok gila Cok, Shakuntala, dan Laila. Yasmin tanpa mereka sungguh tidak lengkap. Barangkali memang pada novel ini, Ayu Utami ingin memperkenalkan sisi lain tokoh-tokohnya. Adanya cerita tentang penghuni-penghuni padepokan cukuplah mengobati kangen pada tokoh-tokoh lama.

Para penghuni padepokan menjelaskan kepada pembaca bahwa ketidaksempurnaan memiliki kesempurnaannya sendiri. Terutama tokoh Maya, ia mengajarkan keindahan di luar pengertian umum yang tidak kalah indahnya. Tidak mungkin tidak terharu ketika membaca bagian di mana  Maya menyadari keindahannya yang berbeda dengan keindahan para perempuan berkaki panjang. Betapa kita mesti mampu bersyukur dan menikmati apa yang sudah ada pada diri kita, guys :’)

***

Manjali dan Cakrabirawa punya kelincahan seorang gadis muda yang tulus dan manis. Lalita penuh dengan kerumitan tokoh perempuan yang sudah kenal dunia dan haus perhatian. Maya diisi dengan potongan-potongan pengalaman pendewasaan seseorang. Senang sekali membaca seri Bilangan Fu karena sejauh ini Ayu Utami tidak terjebak pada emosi yang sama sehingga di tiap buku ada pengalaman yang berbeda. Pr nya sekarang adalah bagaimana Ayu Utami bisa mempertahankan semangatnya dalam menulis hingga ke seri ke-12.

Gue nulis alur cerpen aja setengah mati, ini lagi bikin novel berkelanjutan 12. Dikata komik…. Salut banget sih. Gue mendoakan semoga semangat menulis Ayu Utami tetap terjaga hingga buku ke-12.

***

Seri Bilangan Fu yang selalu bercerita soal pusaka nusantara dengan kearifan-kearifan lokal di dalamnya adalah buku yang selalu gue rekomendasikan kepada teman-teman. Fix kan, males nyari sendiri tentang sejarah-budaya Indonesia yang nggak ada di buku pelajaran? Tapi nggak mau juga kan dibilang omdo ketika bicara soal cinta Indonesia? Makanya baca buku ini, setidaknya perlahan-lahan memperkenalkan kepada kalian tentang apa dan bagaimana Indonesia.

Gue juga menyenangi seri ini, karena setiap habis membaca gue pasti akan ngobrol sama bokap tentang isi bukunya dan bokap akan cerita banyak tentang kejadian-kejadian zaman dulu. Maklum, saksi hidup sih. Bokap lahir tahun 1953. Tinggal di Salemba pula. Mulai dari G30S sampai demo 98, ngerasain langsung.

Omong-omong, kutipannya ditulis di post selanjutnya deh ya, kalau di sini kepanjangan.

Selamat membaca Maya!

-trika


Review : Novel Cinta. (baca: cinta dengan titik) Oleh Bernard Batubara

Betapa media sosial mempermudah kita untuk bisa mengenal -lebih tepatnya menguntit- seseorang.

Gue mengenal nama Bernard Batubara dari twitternya, @benzbara_. Seperti yang sering terjadi, sedikit banyak twitter membuka pintu untuk mengenal seseorang. Well, sekarang ini media sosial lebih cocok dengan nama media nge-stalk. Iya, nge-stalk. Tentu lebih keren ketimbang disebut media menguntit, kan?

Dari twitter, gue tahu dan kemudian membaca blognya beberapa kali. Sejauh membaca blognya, Kak Bara punya cara bercerita yang ramah. Membaca review-review buku yang ia tulis seperti sedang ngopi dan ngobrol dengan seorang teman.

Novel terbarunya, Cinta. (baca : cinta dengan titik) sudah terbit dari Agustus. Penasaran, tapi sayangnya gue nggak pernah cukup rela mengeluarkan uang untuk novel teenlit/ metropop, kecuali untuk nama-nama penulis yang sudah gue ketahui kualitas menulisnya. Pucuk dicinta, ulam pun tiba, seorang teman menjadikan novel ini sebagai kado untuk gue. Hehe…

Oh iya, sebelum memulai review, gue mengeneralisir bahwa yang baca teenlit atau metropop dan sebangsanya adalah perempuan.

***

Seperti novel teenlit lainnya, novel yang satu ini punya kekuatan untuk membuat pembacanya senyum-senyum sendiri. Seklise apapun itu, gombalan novel teenlit akan selalu mampu memancing reaksi pembacanya. Perempuan mana sih yang nggak seneng digombalin? Tentu saja membaca novel ini dipenuhi juga oleh perasaan kesal, marah, dan haru sebagaimana seorang pembaca terseret arus cerita.

Sayangnya, pada novel ini cerita berjalan begitu cepat. Ada titik di mana gue teriak-teriak penuh emosi, terbawa klimaks cerita. Tapi sesudahnya, “lah, begini aja? Yakin ceritanya sudah selesai?” Sudut pandang pada novel ini didominasi oleh Nessa, sosok perempuan yang kalem dan sederhana. Apa karena pembawan karakter yang kalem dan sederhana maka cerita jadi terasa cepat berlalu tanpa banyak memberi kesan?

Sejujurnya gue kurang menyukai tokoh Nessa. Gue tidak melihat tokoh utama wanita ini punya pendirian. Gue nggak melihat ada keputusan yang Nessa ambil karena itu kemauannya sendiri. Dari awal sampai akhir, gue melihat Nessa sebagai tokoh yang bingung. Mungkin memang penulis ingin menunjukkan konflik batin, tetapi menurut gue emosinya tidak tergambarkan dengan tegas. Sebetulnya juga, gue membaca buku ini penuh emosi karena kesal pada sosok Nessa yang seperti kebingungan sendiri.

Pun tokoh utama prianya, Demas. Penuh keraguan dan sulit memutuskan. Setidaknya keputusan dia masih berdasarkan keinginannya sendiri.

Untungnya tokoh-tokoh pembantu punya karakter yang cukup kuat. Ada Endru, si badboy yang gue yakin jadi banyak tokoh favorit pembaca lain. Ada ayah yang lewat penuturan Nessa dan adegan-adegan kecil menunjukkan sesosok ayah penuh perhatian. Gemash :3 Tokoh Bian, sahabat dari Nessa juga punya karakter khas tokoh pembantu wanita. Heboh dan punya kehidupan cinta yang lebih stabil dari tokoh utama. Gue agak menyayangkan adegan di mana Bian mengkonfrontasi Nessa. Perasaan kecewanya sedikit terlalu berlebihan, membuat gue bertanya-tanya, seorang sahabat mestinya hadir sebagai sosok yang berkepala dingin dalam menyelesaikan masalah si tokoh utama, bukan?

***

Di luar itu, gue cukup menyenangi bahasa Kak Bara yang puitis. Mungkin gue terjebak pada standar novel teenlit dan metropop yang bahasanya sangat sehari-hari. Dari segi cerita dan tokoh, beberapa novel bisa jadi lebih bagus, tetapi keindahan bahasa pada novel Cinta. sejauh ini belum pernah gue temukan di novel sejenis.

Banyaknya puisi -kutipan atau buatan sendiri- juga hal yang baru gue temukan di sebuah novel teenlit. Sesuatu yang segar dan menambah kekuatannya sebagai novel yang bercerita tentang cinta.

***

Novel Cinta. (baca: cinta dengan titik) buat gue adalah lagu pop yang perlu diketahui untuk menambah pengetahuan tanpa harus mendengarnya berkali-kali karena mendengarnya berkali-kali tidak memberi pengertian yang baru. Ini masalah selera sih, gue lebih menikmati tulisan yang dramatis karena pada hal yang dramatis, gue menemukan hal baru. Tapi kalau kalian memang suka baca teenlit, buku ini bisa jadi salah satu buku wajib baca. Apalagi kalau kalian suka sesuatu yang halus dan manis.

***

“Cinta membuatmu menjadi seseorang yang bodoh.” -hlm. 291

Sebete apapun gue pada kedua tokoh utama novel ini, kalimat di atas membuat gue mentolerir kebimbangan dan keraguan Nessa dan Demas yang nggak jelas. Siapa sih yang berani bilang bahwa cinta tidak pernah membuat mereka kesusahan? Bahkan dengan prinsip sekuat apapun, sesekali, cinta mesti mampu menggoyahkannya. Setuju, tak?

-trika


Rencana Pertama 2014 : Kalender Baca

Berhubung akan menghadapi segala macam ujian (3x Try Out – Ujian Sekolah – Ujian Praktik – Ujian Nasional – belum lagi kalau mesti juga tes tertulis SBMPTN dan SIMAK), gue membereskan buku-buku di rak. Lebih tepatnya mengkarduskan buku-buku di rak dan menggantinya dengan buku ringkasan SMA dan soal-soal latihan Ujian Nasional maupun SBMPTN. Sungguh tersiksa sekali memilih sedikit buku untuk tetap diletakkan di rak bilamana tiba-tiba gue butuh hiburan.

Ketika membereskan buku-buku tersebut, barulah gue sadar bahwa BANYAK sekali buku yang belum gue baca. Sungguh pemborosan yang amat sangat. Betapa dosanya gue kepada kedua orangtua. Kemudian, bagaimana pula caranya menyelesaikan banyak buku di tengah kesibukan menghadapai segala macam ujian itu? :’(

Kebetulan kemudian, gue membaca tulisan di blog Bernard Batubara (www.bisikanbusuk.com) tentang Kalender Baca 2014. Oh! Inilah jawaban dari Tuhan untuk pertanyaan gue. Dengan Kalender Baca 2014, setidaknya dua belas buku bisa gue selesaikan. Juga kalender ini akan menstabilkan iklim membaca gue, jadi ketika selesai UN pun, kemampuan baca gue tidak akan berkurang.

**

Sesungguhnya sejak kelas dua, kemampuan baca gue menurun drastis. Sibuk mengerjakan tugas-tugas esai dan presentasi yang menggunung, plus menjadi pengurus aktif di OSIS dan ekskul science. Terhitung 1,5 tahun sejak kelas 2 – semeter1 kelas 3, gue hanya berhasil menuntaskan sedikit buku. Cukup banyak yang gue baca, tapi dengan otak yang sungguh skip. Buku-buku yang berhasil gue tamatkan dengan cukup pengertian hanyalah Senja di Jakarta oleh Mochtar Lubis, tiga buku Ika Natassa (A Very Yuppy Wedding, Divortiare, Antologi Rasa), Maryam oleh Okky Madasari, Lalita oleh Ayu Utami, dan Kelakar Tanpa Batas oleh @notaslimboy. Cuma tujuh buku? Astaga! Padahal kalau dihitung, jumlah buku yang terbeli tanpa sempat gue baca ada 50-an jumlahnya.

Maka Kalender Baca 2014 memang akan sangat membantu gue membangun disiplin baca. Beberapa bahkan sudah dibeli dari tahun 2011 (Dunia Sophie, Di Sekitar Sajak, dan Blind Willow Sleeping Woman) dan belum sempat di baca. Beberapa gue beli di akhir tahun 2013 (Manusia Indonesia dan Bartleby The Scrivener). Sisanya gue beli di tahun 2012-an.
image

**

Tidak hanya membantu gue menjadwalkan buku-apa-mesti-selesai-kapan, kalender ini juga akan menciptakan disiplin menulis karena setidaknya buku yang ada pada Kalender Baca 2013 akan gue tulisi review-nya. Ya, barangkali hanya mampu membahas secara ringan, mengingat posis gue masih pada penikmat, belum mampu jadi pengamat. Tapi menulis tetaplah menulis. Menulis membutuhkan suatu proses berpikir. Menulis memaksa gue untuk membaca makna ketimbang kata.

**

Segudang rencana sesungguhnya mudah dibuat. Realisasinya lah yang paling sulit. Tapi setidaknya, rencana akan mampu menuntun kita.

Kalo Kalender Baca 2014 lo, mana?

-trika


Sebuah Surat Terbuka : Untuk Teman yang Tak Saya Kenal Betul

Ini telah lewat beberapa hari dari ulang tahunmu. Biar begitu, selamat ulang tahun, kawan! Maaf saya begitu telat mengucapkan. Beberapa hal mesti dipikirkan hingga sejenak saya lupa ingatan.

Tak lantas saya lupa sama sekali. Sejak dua hari terakhir di 2013, saya sudah ingat, hanya saja takut. Sekaligus merasa bersalah juga karena telah lupa dan belum memberi selamat. Saya pikir-pikir, apa ya hal yang paling pas untuk dihadiahkan?

Ah, mesti tak ada yang pernah mengirimu surat kan? Sungguh surat sejujurnya lebih dalam, penuh dengan pemikiran dan perasaan yang berkubang. Zaman memang sudah kelewat modern. Menurut saya kalau kita lihat lebih dalam, komunikasi singkat padat layaknya sms atau chat mengurangi keakraban yang utuh. Di permukaan memang terlihat dekat, tapi pada kedalamannya, sesungguhnya ya berjarak. Terlihat ramai, tapi sesungguhnya lebih sepi dari senyap komplek kuburan.

Barangkali itu pemikiran sok tinggi saya saja, sih. Kamu -juga kebanyakan orang, bahkan kadang saya sendiri- mesti berpikir, Trika ini kalau ngomong suka ketinggian, sok idealis!

Omong-omong, kita ini memang tidak dekat-dekat amat. Selain satu sekolah sejak tk, tak banyak informasi yang saya tahu tentang kamu. Saya seringkali juga merasa kamu membosankan dan tak spontan. Terlebih saya kadang takut. Takut tak bisa mengimbangi kamu dalam percakapan, lantas dicap bodoh dan norak. Hehe.

Tapi suatu hari, kata-kata kamu menyadarkan saya. Begini ceritanya, seperti biasa saya sedang jahil. Saya mencoba mengganggu kamu, tapi kamu tak bergeming. Saya pun bertanya mengapa kamu diam saja.

“Kalau gue tanggepin, itu artinya lo yang menang.”

Kalimat itu cukup untuk menjelaskan, kawan, mengapa kamu menjadi salah satu bentukan murid teladan. Kalimat itu juga mengajarkan kepada saya, betapa banyak gangguan dalam mencapai tujuan. Hanya bila saya mengabaikan gangguan itu dan berfokus pada tujuan, maka saya bisa menang.

Meski menang bukanlah segalanya.

Dan sejak hari itu, bertambahlah kagum saya kepada kamu. Di dunia ini, kita butuh hitam dan putih. Butuh yang mengejutkan, juga yang penuh rencana. Dan kamu, dengan diri kamu yang penuh perencanaan dibutuhkan oleh dunia. Tuhan, lewat kamu, seperti menyuruh saya untuk belajar fokus dan merencanakan. Alasan lain saya kagum, karena kamu mau mengetahui berita-berita sosial politik Indonesia, dengan latar alasan apapun. Kita mesti memupuk pengetahuan soal negara sejak muda, bukan?

Sekali lagi, saya ucapkan selamat ulang tahun. Selamat tua! Bertambahnya usia, bertambah jugalah tanggung jawab. Semoga kamu sehat selalu dan sukses mengejar impian. Semoga di 2014 kamu tidak apatis pada politik dan menolak golput. Menjelang pemilu nanti, mari kita ngobrol-ngobrol!

Selamat ulang tahun! ;)

-trika


Maya oleh Ayu Utami

Setelah dua tahun Saman dinyatakan hilang, kini Yasmin menerima tiga pucuk surat dari kekasih gelapnya itu. Bersama suratnya, aktivis hak asasi manusia itu juga mengirimkan sebutir batu akik. Untuk menjawab peristiwa misterius itu Yasmin yang sesungguhnya rasional terpaksa pergi ke seorang guru kebatinan, Suhubudi, ayah dari Parang Jati. Di Padepokan Suhubudi Yasmin justru terlibat dalam suatu kejadian lain yang baginya merupakan perjalanan batin untuk memahami diri sendiri, cintanya, dan negerinya -sementara Parang Jati menjawab teka-teki tentang keberadaan Saman. Cerita ini berlatar peristiwa Reformasi 1998.
—-
Woh, akhirnya bertemu lagi dengan Yuda, Marja, dan Parang Jati :’) Plus ada Saman dan Yasmin. Jadi inget email mereka di akhir buku Saman ;) Buku ini sungguh minta dilahap!

View on Path

Continue reading

Dari pukul 00.50 – 05.47 menulis http://trikakong.wordpress.com/2013/12/30/pertemuan-di-sebelah-selatan/ untuk #tantangannulis @JiaEffendie :’)

Tantangannya adalah membuat cerpen dengan melanjutkan dua kalimat berikut, “Namanya Debur Ombak Selatan. Oke, orangtua macam apa yang menamainya Debur Ombak Selatan?”

Thank you, Maya udah nemenin ;) – with Mayanov

View on Path

Continue reading

Pertemuan di Sebelah Selatan

“Namanya Debur Ombak Selatan…. Oke, orangtua macam apa yang menamai anaknya Debur Ombak Selatan?”

“Orangtua macam aku?”

“Oke… Kalau begitu, tidak perlu heran lagi, ya?”

“Sial! Hahaha!”

Tawa membuncah. Memantul ke segala arah, memenuhi ruang. Tawa itu menjadi hingar bingar basa-basi antara dua sahabat yang telah mengasing. Sederhana. Kesibukan mengurus masa depan nan mapan membuat waktu bercengkrama habis terkikis.

***

Rinda dan Anjani pelan-pelan menyeruput kopi yang tersaji di meja. Bertemu seorang kawan lama yang dulu begitu dekat ternyata tidaklah lebih ringan dari bertemu kawan lama yang tidak begitu dekat. Justru basa-basi dengan kawan yang tidak begitu dekat itu bisa sebentar saja. Tetapi basa-basi dengan kawan lama yang dulu begitu dekat justru mesti ditata sedemikian rupa. Menolak fakta bahwa apa-apa yang dulu dekat, sekarang memang telah menjauh. Itulah manusia.

Rinda dan Anjani menyeruput pelan-pelan kopi yang tersaji di meja mereka. Berharap seruputan yang perlahan itu bisa menghabiskan banyak waktu, sehingga tak perlu berlama-lama dalam kecanggungan. Setidaknya memberi waktu bagi otak untuk berpikirlah, kata-kata apa yang mesti diucapkan kepada seorang kawan lama yang dulu begitu dekat.

Rinda yang telah lebih dulu meletakkan gelas kembali di meja memilih untuk memulai percakapan. “Sudah berapa tahun ya kita nggak ketemu?”
“Entahlah. Rasanya sampai lima belas tahunan ya? Kita masing-masing terlalu sibuk.”

“Sehabis lulus SMA, terlalu banyak hal-hal yang mesti kita raih. Kuliah, cari kerja, juga cari calon suami yang bibit, bebet, dan bobotnya diterima keluarga besar. Sehabis nikah? Makin sibuklah. Rasanya tak ada waktu untuk mengurus diri sendiri. Apalagi berkumpul dengan kawan-kawan lama.”

“Ya, aku juga begitu. Semakin tua, tuntutan semakin banyak saja. Lelah.”

Rinda dan Anjani saling mengganggukkan kepala. Kembali membayangkan bagaimana rumah tak ada bedanya dengan kapal pecah dan tumpukan pekerjaan yang pelan-pelan meledakkan bom tenggat waktu.

“Biar bagaimana pun, hidup mesti dinikmati juga. Walau sungguh amat sibuk, momen-momen tertentu sungguh menghapus lelah.”

“Ya, aku setuju. Biasanya di hari-hari pertama aku merasa begitu senang. Hari pertama kuliah, hari pertama kerja, hari pertama menikah, sampai hari pertama punya anak. Hari-hari setelahnya memang tidak begitu menyenangkan, tapi setidaknya ada satu hari yang bisa dikenang.”

“Ah, bicara soal anak. Sumpah mati, Jani, aku penasaran sama nama anakmu. Debur Ombak Selatan?”

Anjani hanya tersenyum kecil. Tak jarang ia mendapat pertanyaan itu. Selalu malah. Kadang-kadang ingin ia buat sebuah papan yang menceritakan arti dari nama anaknya. Biar kalau ada yang bertanya, tinggal ia tunjukkan papan itu. Diam-diam, senyum Anjani juga mengandung kebanggan. Jarang-jarang ada cerita cinta yang bisa menghasilkan hal aneh. Dan terkadang hal aneh itu justru permata yang tidak mungkin semua orang mengerti.

“Panjang ceritanya, Rin. Dan seperti yang selalu kamu bilang tentang aku di masa SMA, cerita ini tidak begitu menarik. Datar. Well, sedatar senyum kamu ketika dulu kamu dihujat kakak kelas yang cantik bukan main itu.”

“Oh, Jani, itu senyum yang kecut! Berani-beraninya mengungkit masa lalu yang itu. Masih seperti dulu ya, aku akan selalu memberi pembelaan. Tidak cantik bisa jadi lebih menarik. Cantik itu membosankan, tergantung pada tren saja. Jadi bukan salah aku kalau pacar si kakak cantik itu lebih memilih aku.”

Anjani kembali tersenyum. Kali ini senyumnya lebar nyaris tertawa. “Oke. Jangan marah dong, Rin. I always know, kok, you are extraordinary.”

“Thank you. Kamu memang teman paling pengertian,” Rinda kembali menyeruput kopinya. “Sekarang, kembali ke topik utama. Kamu wajib cerita tentang asal nama anak kamu. Kayaknya cerita ini akan cukup untuk menceritakan semua tentang kamu selama kita nggak ketemu.”

“Okay then. Berhubung ceritanya cukup panjang, kamu boleh pesan kue apapun. Aku yang bayar. Anggaplah itu sebagai penebusan dosaku karena nggak pernah menghubungi kamu. Mau pesan apa?”

“Masih hobi mentraktir orang, toh? Jani, pesan kue bisa belakangan. Yang penting cerita kamu. Kepo nih…”

Melihar Rinda yang sudah memasang tampang memelas, Anjani mulai tertawa. Betapa ia jadi rindu masa-masa SMA nya.

Sebelum memulai cerita, Anjani seruput lagi kopinya, mengkosongkan seperempat gelas.

“Di cerita ini, kita langsung ke masa-masa awal kerja ya.”

“Siap, deh.”

“Karena selalu berhasil menyandang predikat anak emas, lulus kuliah, seorang dosen menawari aku untuk mengurus sebuah perpustakaan yang waktu itu baru di buka di Yogya. Jakarta kelewat membosankan, Rin, maka aku ambil tawaran itu.”

“Pasti ketemu cowok Yogya yang memikat hati di Pantai Parangtritis? Katanya sunset di pantai itu romantis sekali.”

“Ih, Rinda. Nggak seklise itu juga.”

“Jadi?”

***

Jadi tidak seklise tebakan kamu tadi, hidupku berjalan dengan biasa saja. Sibuk adaptasi di daerah baru, bertemu orang-orang baru, sibuk mengurus pekerjaan, sekaligus di awal tahun aku sibuk wisata kuliner. Paling berat ya adaptasinya, Rin. Jakarta dan Yogya itu sungguh beda. Dari udaranya, jalanannya, hingga masyarakatnya. Bukannya kampungan, hanya saja lebih ramah dan terbuka. Beda dengan Jakarta yang muka penduduknya sama rumitnya dengan kemacetan. Saking ramahnya, aku jadi bingung.

Dua tahun bekerja di Yogya, aku hidup sendiri. Mama, seperti kebanyakan ibu lainnya, sibuk bertanya soal pacar dan nikah. Boro-boro nikah, aku tenggelam di dalam tumpukan-tumpukan berkas kantor. Bagaimana sempat cari pacar? Melihat kesibukanku, mama malah menghubungi dosenku itu. Beliau yang ternyata teman kuliah Mama, di perpustakaan adalah bosku. Atas desakan halus mama –ya kamu tahulah bagaimana mulut seorang ibu yang ingin menimang cucu- Pak Bos akhirnya menyuruhku untuk mengambil cuti.

“Cuti seminggu untuk apa pak? Lebaran baru kemarin.”

“Untuk menikmati hidup. Kasihan mama kamu, selalu khawatir dengan kondisi kamu yang sibuk mengurus pekerjaan. Sekali-kali, nak Anjani, kamu bersenang-senang. Lama di Yogya, tapi bolak-balik antara perpustakaan, kamar kos, dan beberapa tempat wisata kuliner saja kan?”
Lebih karena aku kasihan pada Pak Bos yang sudah didesak-desak mama, kuterimalah tawaran cuti itu. Selama seminggu itu aku keliling Yogya. Tidak hanya kotanya, aku jalan-jalan hingga ke pelosok. Sekalian mengunjungi daerah wisata yang biasa dikunjungi turis. Dua tahun tinggal di Yogya, baru pada cuti itulah aku mendatangi Prambanan dan Borobudur. Adakalanya menjadi turis lebih menyenangkan ketimbang jadi penduduk.

***

“Dua tahun di Yogya, kamu jomblo?”

“Single, Rinda. Jomblo itu nasib. Aku memilih untuk sendiri, untuk single.”

Rinda dan Anjani sama-sama tertawa mendengar jawaban itu, sembari menyantap kue yang tadi mereka pesan di sela-sela cerita.

“Bahasamu, Jani, Single. Singlet, kali?”

“Hahaha, terserah kamu lah. Intinya, dua tahun aku di Yogya memang tanpa adanya seorang pacar. Di masa cuti seminggu itulah baru aku bertemu seseorang yang begitu mempesona.”

“Aih, cinta lokasi ya? Macam artis saja deh.”

***

I never believe in love, untill i met him. Mata, Rinda, memang berbicara lebih banyak dari mulut. Ada keceriaan, semangat di matanya yang begitu memikat. Hal yang tidak pernah aku lihat di cermin ada di mataku. Ini bukan keceriaan atau semangat yang dipertunjukkan ketika sedang dalam perlombaan atau ketika menang undian. Ini bentuk semangat yang berapi-api juga begitu rumit. Yang ketika pertama kali menatapnya, Rinda, aku merasa ada sendu di situ yang mesti kuungkap dan kupeluk hingga terkuras air matanya.

Maaf ya, tiba-tiba jadi puitis begini. Aku terlalu lama bekerja di antara buku-buku. Tapi rasanya, Rinda, kata-kataku tadi tidaklah berlebihan. Aku masih ingat betul bagaimana senyum di sudut bibirnya sampai ke sudut matanya. Yang tulus, yang tidak menelisik membuat risih. Kronologinya seperti ini, dimulai dari aku yang di hari terakhir cuti baru sadar bahwa belum kukunjungi Pantai Parangtritis. Ya, seperti tebakan kamu yang pertama, aku bertemu laki-lakiku di pantai itu. Tapi dia tidak asli Yogya. Dia tulen anak Jakarta seperti kita. Hanya saja, ia kebetulan lahir di Yogya. Ayahnya dinas di sana saat Ibunya hamil.

Sesampai di pantai, aku langsung sibuk dengan kameraku. Terlalu banyak hal yang saat itu ingin aku abadikan. Mulai dari gulungan ombaknya, buih-buih di garis pantai, warna pasirnya, hingga beragamnya aktivitas manusia yang memunculkan berbagai macam ekspresi. Hingga siang, barulah aku sadar bahwa aku belum makan sama sekali. Kuputuskan untuk berhenti memotret dan mengunjungi salah satu kafe yang ada.

Iya, Rinda, aku memang anak Jakarta. Lebih nyaman dengan kafe ketimbang warung-warung pinggiran.

***

“Kamu sibuk memotret. Terus kamu makan. Kapan ketemunya? Memangnya kamu di sana sampai malam? Berani sendirian? Kamu kan cewek, Jani.”

“Makanya ceritaku jangan dipotong. Kebiasaan dari dulu nggak pernah hilang ya?”

“Aku penasaran dan kamu cerita begitu lama. Harus dari A sampai Z. Nggak bisakah kita lewatkan beberapa detail?”

“Nope. Kamu masih cukup penasaran nggak?”

“Dengan nama yang super aneh itu? Kalau bukan karena dia anak kamu dan bakat melukisnya, aku nggak akan sepenasaran ini.”

“Kalau gitu, keep eating your cake  and listen carefully.”

“Fine, Madam.”

***

Dan ini akan super detail. Jangan kamu potong ya, Rin. Pertemuan pertama ini adalah ceritaku yang paling sakral, selain soal kehamilan dan melahirkan.

Tepat ketika aku mengucapkan terima kasih ke pramusaji, aku menyadari keberadaan seorang pria yang duduk di seberang meja. Di tangan kanannya, sebuah buku berjudul Canting karya Arswendo Atmowiloto terbuka. Tangan kirinya menggenggam tissue yang agak basah. Sesuatu pada matanya yang berkaca-kaca dan sudut bibirnya yang antara menyesal dan bahagia membuat aku terpaku. Hey, laki-laki mana yang berani menangis karena sebuah buku di depan umum?

Oh iya, tadi aku bicara soal semangat dan keceriaan, kan? Diantara air matanya yang telah terseka, Rinda, ada pandangan mata yang berkobar juga senyum yang ceria. Bahagia. Senyum yang akan kamu tunjukkan ketika kamu menemukan sesuatu yang hilang. Seperti itulah.

Ketika aku sedang memandanginya –terpukau lebih tepatnya- tiba-tiba saja ia mengangkat pandangannya dari buku dan melihatku. Kaget sekaligus grogi karena tertangkap basah sedang mengamati, aku menjatuhkan tasku. Gara-gara itu sebenarnya, aku mesti bersyukur. Si laki-laki yang aku pandangi, mendatangi dan membantuku memunguti isi tasku.

“Terima kasih.”

“Sama-sama.”

“Kamu sedang baca Canting?”

“Untuk yang ketiga kalinya.”

“Really? Dan masih nangis? Ups… Maaf, tapi tadi saya lihat mata kamu agak basah.”

“Haha, tenang saja. Ego saya nggak akan terluka hanya karena mesti menangisi buku sebagus ini. Beberapa hal punya kekuatan magisnya tersendiri hingga menyedot kita masuk dan terperangkap di dalamnya kan? Untuk saya, salah satu dari beberapa hal itu adalah buku ini.”

“Dan untuk saya, kamu mungkin salah satu dari beberapa hal itu.”

***

“AN-JA-NI! Itu percakapan yang kamu karang atau bagaimana? Seorang Anjani mengeluarkan kata-kata segombal itu? Untuk orang yang bahkan kamu nggak tahu namanya. Are you serious?”

“Aku nggak pernah seserius ini, Rinda.”

“I just don’t believe it. Not in a million years. Untuk satu bagian itu, kamu bukan Anjani yang aku kenal. It is really suprising me.”

“It is my pleasure to suprising you. Jarang-jarang kan seorang Anjani yang kalem bisa bikin Rinda yang super pecicilan terkejut?”

“Untuk pertemuan setelah sekian lama hilang kontak, kamu menang, Anjani. Sekarang, you better finish your story. Setelah pesan kue kedua ini, bahkan aku belum menemukan alasan kenapa anak kamu dinamai Debur Ombak Selatan.”

***

Hahaha, kamu mesti menyesal, Rinda. Sejujurnya asal nama anakku itu tidaklah begitu penting untuk orang lain selain aku dan suamiku.

Setelah kalimat super gombal itu aku ucapkan, si lelaki hanya tersenyum. Dan, Oh! Itu senyum yang aku lihat ketika ia membaca buku tadi. Mau tidak mau, aku jadi begitu senang. Apalagi selanjutnya ia mengulurkan tangan, memperkenalkan diri.

“Hindia Suteja.”

“Anjani Wirama.”

“Nama yang bagus.”

“Nama kamu juga. Kita ada di tepian nama kamu pula.”

“Maksudnya?”

“Samudera Hindia. Pantai ini kan terusannya ke samudera itu. Nama kamu.”

“Ah, itu maksud kamu. Tempat ini memang tempat terakhir yang orangtuaku kunjungi sebelum aku dilahirkan. Sepertinya alasan itulah yang membuat orangtuaku menamaiku Hindia.”

“Cerita yang manis. Sembari saya menyantap sarapan sekaligus makan siang saya, boleh saya minta kamu bercerita? Apa pun ceritanya.”

“Anjani, kita baru kenal beberapa menit dan kamu sudah memberi dua kejutan yang menarik. Jangan kamu tambahkan lagi, nanti saya bisa kena serangan jantung.”

“Bukan cuma kamu, saya sendiri terkejut. Saya selalu dibilang sebagai anak yang kalem, lho. Tapi untuk sekarang, saya butuh tersedot dan terperangkap di dalam kekuatan magis kamu. Terutama mata kamu ya. Candu dalam waktu sekejab, Hindia.”

***

Anjani mengambil nafas, lalu menghelanya perlahan. Menikmati tiap detik dari kata-kata yang ia ceritakan. Kembali ia seruput kopi di gelasnya dan sesendok kue ia suapkan ke mulutnya. Ia abaikan wajah cemberut Rinda yang menagih jawaban. Sebentar Anjani ingin bernafas, sebelum ia memberikan jawaban yang gamblang dan mungkin selanjutnya dihabisi oleh Rinda. Sejujurnya, jawaban yang Rinda cari begitu sepele.

“Anjani, kalau cerita kamu habis sampai di situ, awas saja.”

“Aku masih mau hidup kok, Rin. Tenang saja,” Anjani letakkan gelasnya dan kembali bercerita. “Setelah mendengar kata-kata gombal yang terakhir tadi, Hindia cuma menggelengkan kepalanya dan banyak bercerita soal dirinya. Sedangkan aku makan dengan begitu lambat. Di tengah mulutku yang sibuk mengunyah, konsentrasiku sepenuhnya terpusat pada Hindia. Saat itu, Rin, hanya dua hal yang dengan jelas bisa kudengar. Suara Hindia dan suara ombak menggulung pecah dari arah pantai. The most beautiful sounds I’ve ever heard. Dan malam itu, Rinda, I’ve got my first kiss.”

Anjani memejamkan matanya. Mengingat-ingat lagi momen itu. Setelahnya, mereka berjalan-jalan di pinggir pantai. Ketika matahari terbenam, sekonyong-konyong Hindia mendekatkan kepala dan mencuri cium bibirnya.

“A very romantic story, Jani. Walaupun aku belum juga menemukan hubungan antara cerita kamu dan nama anak kamu, harus diakui pertemuan kamu dan suami kamu itu romantis banget. Kayak di film-film!”

“Karena masa SMA dan kuliah yang terlalu datar barangkali, Tuhan menghadiahi aku satu cerita yang begitu romantis.”

“Bisa jadi.”

Rinda dan Anjani pun menghabisi pesanan-pesanan mereka dan bergegas membayar. Keluar dari kafe bisa mereka lihat seorang anak laki-laki menghampiri mereka.

“Bunda!”

Anjani menunduk, merentangkan kedua tangannya dan memeluk si anak laki-laki itu.

“Halo, sayang! Ayo, salim dulu sama Tante Rinda.”

Setelah menyalami Rinda, anak laki-laki itu buru-buru menghampiri Anjani lagi dan merajuk. “Bunda, ayo pulang. Debur belom mengerjakan pr untuk besok.”

“Oke, sayang. Debur ke mobil duluan aja ya. Bunda mau ngomong sebentar sama Tante Rinda.”

Anak laki-laki itu pun berlari ke arah sedan hitam. Melihat anak itu, Rinda mau tak mau kembali teringat pada pertanyaannya yang belum terjawab.
“Anjani, kamu nggak mau jawab aja?”

“Asal namanya Debur?”

“Iya…”

“Hemm, oke. Tadi aku bilangkan bahwa suara Hindia dan ombak adalah suara paling indah?”

“Iya, kamu sudah bilang tadi.”

“Kata Debur Ombak, Rin, mengingatkan aku akan suara ombak menggulung pecah, suara saat aku pertama kali bertemu Hindia. Dan kata Selatan mengingatkan aku pada Hindia. Samudera Hindia kan letaknya di wilayah selatan. Anakku itu, Debur Ombak Selatan adalah hasil jatuh cintaku itu.”

“Cuma itu, Jani?”

“Memang sesepele itu kok.”

“Untung kamu yang traktir.”

“Hahaha, maka dari itu aku traktir, Rinda. Ya udah, aku duluan ya, Rin. Kasihan Hindia dan Debur sudah nunggu. Kamu pulang gimana?”

“Dijemput sama suami dan anak juga dong. Hati-hati ya, salam buat mereka.”

“Okay. See you soon, Rin!”

“See ya, Jani.”

Anjani pun berlalu menuju sedan hitamnya. Di belakang, pelan, agak berbisik, Rinda berkata, “cerita yang bagus untuk sebuah nama yang memikat.”

-trika


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 491 pengikut lainnya.