Sepuluh Hari Yang Mengguncang Indonesia (tragedi mei 1998) ASIAWEEK investigation 24th july 1998 | http://danudika.wordpress.com/2012/08/07/sepuluh-hari-yang-mengguncang-indonesia-tragedi-mei-1998-asiaweek-investigation-24th-july-1998/

Membaca tulisan di atas membuat gue ngeri setengah mati. Ngeri sebagai seorang manusia dan ngeri sebagai seorang perempuan.

Sekaligus membuat gue bertanya-tanya, mana yang benar dan mana yang salah? Mestikah kebenaran dibuka secara vulgar di muka umum? Kapankah waktu yang tepat untuk menelanjangi kebenaran tersebut? Tidak bisakah kita hidup seakan berdiri di atas panggung dan memakai topeng yang sama dengan ratusan orang lainnya sehingga aman dan tak terlihat? Bukankah membuka topeng sama halnya seperti menabur garam di atas luka?

Bolehkah sejenak kita pura-pura lupa bahwa kita pernah terluka?

Tetapi bukankah hidup adalah duka yang salah? Bahkan secara mudah dapat kita simpulkan bahwa kehidupan manusia di bumi tidak lain dari sebuah kesalahan, sebab dua makhluk yang Tuhan ciptakan dari tanah itu memakan buah yang terlarang.

Lebih mudahkah bila kita sekedar menikmati luka?

Tapi bukankah memang kita menikmati luka? Mengingat kata Eka Kurniawan bahwa, “Cantik Itu Luka” maka sepertinya setiap hari kita menikmati luka.

*rasanya jadi ingin membaca ulang Pulang.

View on Path

Hal Tidak Penting Setelah Membaca Posisi Kursi dalam Sebuah Hubungan yang Tidak Penting-Penting Amat

“Ya, ekskresi tak pernah dianggap sepenting ereksi.”

Bukan. Gue tidak sedang akan membahas ekskresi atau ereksi yang oleh anak-anak seumuran gue dianggap sama kadar joroknya.

Satu kalimat itu gue kutip dari cerpen karya Zen RS. dengan judul Kursi dalam Sebuah Hubungan yang Tidak Penting-Penting Amat.

Cerpen itu bercerita tentang Ireng, laki-laki berusia 34 tahun yang tidak pernah membiarkan teman kencannya duduk berhadapan dengan dirinya. Selalu di sebelahnya.

“Jika mejanya terlalu kecil untuk duduk bersebelahan, Ireng akan meminta perempuan yang dikencaninya untuk duduk di sisi kanan atau di kiri, pokoknya tidak di depannya,” begitu katanya.

Menurut si tokoh utama, bersebelahan akan mempertahankan kedangkalan sebuah hubungan. Oh ya, hubungan yang tidak penting-penting amat memang harus dijaga kedangkalannya. Bila dipaksa berhadapan akan menimbulkan kepura-puraan. Menurut si Ireng, kepura-puraan jauh lebih buruk dari kedangkalan.

Tapi toh pada akhir cerita, Ireng dipertemukan dengan seorang teman kencan yang membuat ia ingin duduk berhadapan. Memulai sebuah hubungan penting.

Lalu apa hubungannya dengan ekskresi dan ereksi? Kalau dipikir-pikir sepertinya memang tak ada. Ketika membaca sesuatu, gue biasanya akan menemukan penggalan-penggalan yang membuat gue berdecak kagum. Kemudian memaknai penggalan tersebut secara personal. Selanjutnya lupa memaknai keseluruhan cerita.

Kebiasaan ini menyulitkan, sebab gue jadi lebih bisa mengoleksi informasi (yang gue sukai) ketimbang menganalisis keseluruhan informasi. Sial.

***

Kembali pada cerpen tersebut, gue menyukai sifat Ireng yang ringan, juga jujur dan apa adanya. Padahal kalau kata Tulus kan, “jangan cintai aku apa adanyaa~.”

Juga menyukai cara si penulis membentuk karakter Ireng. Beberapa kalimat penjelasan mungkin membuat manusia-manusia berkecepatan tinggi zaman sekarang berkata, “aduh buruan dong! Inti ceritanya apaan?” Padahal kalimat-kalimat penjelas lah yang menghidupkan karakter tokoh.

Berikut penggalan dari cerpen Kursi dalam Sebuah Hubungan yang Tidak Penting-Penting Amat :

“Kamar hotel? Ya, selalu kamar hotel. Kenapa tidak diajak ke rumah saja? Lha, kenapa memang kalau di hotel dan kenapa memang jika selalu di kamar hotel? Tak pernah, sekali pun tak pernah, Ireng mengajak teman kencannya ke rumah, begitu juga sebaliknya, Ireng tak pernah mau jika diajak ke rumah teman kencannya.

Sungguh, sebenarnya tak ada yang terlalu memalukan dari rumah Ireng. Biasa saja, seperti halnya rumah-rumah yang lain. Letaknya agak di pinggiran kota, tak jauh dari sebuah pintu tol yang tak terlalu ramai. Ia merasa rumah adalah tempat yang terlalu pribadi, semacam sanctuary, yang ia enggan berbagi kecuali dengan dirinya sendiri. Itu alasan yang tidak terlalu aneh, bukan? Ya, biasa saja. Setiap orang memang butuh privasi. Di momen-momen tertentu privasi bisa berarti kesendirian yang tak terganggu siapa pun dan apa pun. Bahkan orang dengan kecanduan akut pada keramaian pun punya saat-saat khusus di mana ia harus sendiri; kadang hanya untuk tidur lelap, mungkin hanya untuk buang air besar dengan nyaman karena peristiwa buang air besar masih dianggap memalukan. Ya, ekskresi tak pernah dianggap sepenting ereksi.”

Kalau melihat alur ceritanya, rasanya tak penting membaca deskripsi tersebut. Kenapa tidak langsung to the point saja?

Jawabannya menurut gue adalah, tak ada yang lebih indah dari mengenal jalan pikiran seseorang. Setuju?

Kemudian gue jadi teringat bagaimana buku-buku atau cerita-cerita yang menurut gue bagus mendeskripsikan tokohnya. Terlihat agak panjang, kadang bertele-tele, dan bisa sedikit larut dalam menjelaskan hal-hal yang tak ada sangkut pautnya dengan cerita utama.

Eitss, tunggu dulu! Justru deskripsi-deskripsi seperti itu, gue rasa, menghidupkan si tokoh. Setiap manusia pasti memiliki jalan pikirannya tersendiri dan itu menjadi salah satu hal yang membuat manusia yang satu dengan yang lain punya keunikan tersendiri.

Melihat ada cukup banyak orang yang tidak suka membaca buku (terlebih fiksi yang tebal), jangan-jangan menunjukkan bahwa orang-orang kini lebih mementingkan penampilan daripada pemikiran!

Walau dangkal, penampilang barangkali lebih baik dari pemikiran yang pura-pura. Atau bahkan plagiat. Tapai bagaimana bila kini kebanyakan kita memuja penampilan yang pura-pura, bahkan plagiat?

Sudah dangkal, pura-pura lagi!

Lagipula, bila lebih suka mendengar kuliah umum ketimbang membaca kan bisa menunjukkan kemalasan seseorang. Membaca memaksamu berpikir, memang. Sedangkan kuliah umum lebih sering membuat kita melongo dan mengangguk-angguk setuju sebelum kemudian menelan mentah-mentah hasil analisis orang lain.

Alih-alih pendengar yang baik, jangan-jangan kita cuma malas memaksimalkan kemampuan otak?

***

Layar hp gue menunjukkan pukul 01.39. Ya wajarlah bila bahasan gue jadi tidak jelas kemana arahnya. Anggaplah seperti ekskresi dan ereksi, hal-hal yang kasat mata tidak penting bisa jadi jauh lebih penting dari hal-hal penting.

Bukannya pada cerita-cerita detektif petunjuk penting justru lahir dari hal-hal yang tak pernah diduga?

Selamat pagi buta! (atau pagi/siang/malam, tergantung kapan kamu membacanya).

-trika-

catatan :
1. Judulnya panjang, ya? :D
2. Cerpen tersebut bisa kalian baca di http://seratkata.net/2014/05/09/kursi-dalam-sebuah-hubungan-yang-tidak-penting-penting-amat/ | Selamat membaca ;)

ter-a-lih

ter·a·lih v berpindah (secara tidak sengaja)

Gue memiliki fokus yang kualitasnya cukup rendah. Tidak bisa bekerja pada satu hal saja sampai hal itu selesai. Selalu ada hal-hal yang membuat fokus gue teralih. “Berpindah (secara tidak sengaja),” kalau kata http://www.kbbi.web.id.

Gue sering terjebak pada kondisi di mana gue mengerjakan dua atau lebih hal sekaligus. Contohnya sekarang ini. Di mana gue sedang (mencoba) membuat sebuah cerpen dan berusaha mendengarkan lagu secara detil, di mana hal itu membuat gue beberapa kali berhenti menulis dan kemudian ikut menyanyikan si lagu sembari menebak-nebak dengan sok tahu tentang tempo, ritme, atau makna lagunya. Kemudian berpikir, “wah gue gampang banget kehilangan fokus.” Dan selanjutnya memutuskan untuk menulis tulisan ini.

Belum. Cerpen gue belum selesai. Masih mentok di halam pertama. Di mana seharusnya gue minimal mencapai 2,5 halaman. Tapi rasanya sulit sekali. Melanjutkan hingga 2.5halaman. Kenapa gue lebih mudah menulis puisi ya? Tapi kalau ingin menerbitkan puisi, gue harus mengumpulkan setidaknya 100puisi, sedangkan baru berhasil mengumpulkan 25an puisi. Aduh, sulitnya.

Tapi abaikan paragraf yang itu.

Dan tiba-tiba, sekarang gue kehilangan arah tujuan menulis ini. Entah ya, barangkali itu salah satu petunjuk bahwa fokus gue mudah teralih.

-trika

*Pada kalimat terakhir itu, yang benar teralih atau teralihkan ya? Hemm…

Menyoal Pemilu Legislatif 2014

Kalau lo mengikuti akun instagram atau path gue, lo akan menemukan bahwa gue begitu semangat mengajak orang-orang untuk berpartisipasi dalam pemilu legislatif besok.

Bukan. Ini bukan euforia sesaat anak muda yang untuk pertama kalinya akan ikut memilih langsung wakil rakyat. Bukan juga sok-sok paham politik dan mau pamer jari ungu di hari esok.

Gue menyadari bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah penduduk muda yang membludak. Tentu saja hal ini ikut mempengaruhi jumlah orang yang terdaftar sebagai pemilih. Pun gue menyadari bahwa akan ada banyak anak muda yang menganggap libur umum pemilu sebagai hari libur tambahan, alias memilih untuk golput. Inilah hal yang sangat gue sayangkan.

Ya, gue memahami bahwa hal-hal yang berbau politik di zaman sekarang nyaris selalu dihindari. Ironisnya, oleh mereka yang masih muda dan (justru) terpelajar. Padahal politik bukan sekadar soal siapa kawan-siapa lawan, sikut kanan-sikut kiri, atau kompetisi kotor pemangku jabatan di bangku pemerintahan. Pemahaman gue (pemahaman seorang anak kelas 3 sma yang senang sosiologi dan pramoedya), politik adalah strategi, hal yang sebetulnya kita lakukan sehari-hari. Lebih luas, maka politik adalah soal kebijakan atau bicara soal “bagaimana cara mengatasi” permasalahan yang menyangkut kesejahteraan banyak orang.

“Ketika diterapkan dalam praksis bernegara di Yunani Kuno, politik memperlihatkan esensinya yang agung, yakni aktivitas menata masyarakat agar berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan.” -Mengembalikan Esensi Agung Berpolitik, M.Suntoyo (ANTARA News)

Kalau kita memahami politik seperti pada kutipan di atas, gue rasa kita semua akan sadar bahwa ikut aktif berpartisipasi dalam politik negara merupakan hal yang penting. Dan karena kita masih muda, setidaknya partisipasi aktif itu bisa kita wujudkan dengan cara ikut nyoblos pada tanggal pemilu.

Dan tentu saja, sebagai orang yang mengagumi para pahlawan negara, gue mempercayai kata-kata Moh. Hatta. Kata beliau, “di tangan pemuda sekarang terletak sebagian besar nasib rakyat dikemudian hari.”

Gue sih merasa ikut bertanggung jawab dalam menentukan nasib rakyat Indonesia di kemudian hari. Gue merasa bahwa seluruh tumpah darah para pahlawan pembangun negara mesti dibayar oleh kita-kita yang menikmati kemerdekaan. Dengan tindakan sekecil apapun itu. Misalnya, ya dengan ikut mencoblos. Menentukan siapa orang yang lo pilih untuk jadi mata, telinga, dan mulut lo di bangku pemerintahan.

Kalo belom kenal sama caleg di dapil lo, lo bisa cek websitenya kpu atau website OrangBaik (www.orangbaik.org). Di website OrangBaik, lo bisa melihat caleg-caleg sesuai dapil. Sekaligus di web itu ada penilaian dan cv tiap-tiap caleg.

Sekali lagi, guys.

Bukan. Ini bukan euforia sesaat anak muda yang untuk pertama kalinya akan ikut memilih langsung wakil rakyat. Bukan juga sok-sok paham politik dan mau pamer jari ungu di hari esok.

Ini soal gue yang pengen menggunakan kekayaan anak muda yang paling berharga, alias idealisme gue selagi masih muda, sebab akan ada titik di mana tiap manusia menjadi kecewa dan tidak lagi punya idealisme.

Ini soal gue yang mengajak kalian untuk sebentar saja menghentikan sikap skeptis khas anak muda. Karena gue yakin, pada pemilu 2014 ada secercah harapan baru buat Indonesia.

Masalahnya sekarang, apakah lo cukup berani untuk mendekati dan mempelajari secercah harapan itu?

-trika

*catatan : kalau ternyata semua caleg di dapil lo mengecewakan, setidaknya datang ke tps dan buat surat suara lo jadi tidak sah. jangan golput dan diam di rumah, sebab kita tidak pernah tahu apakah ada atau tidak orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

“Duh, pemilu legislatif tuh ribet deh. Calonnya banyak banget. Mana tau mau pilih siapa… golput ah, itung-itung libur tambahan.”

Banyak jalan menuju Roma, bos. Dan Tuhan selalu mempermudah jalan bagi orang-orang yang mau berusaha.

Untuk pemilu besok, lo bisa cek http://www.orangbaik.org untuk ngeliat siapa aja caleg di dapil lo. Plus lo bisa lihat penilaian dan cvnya.

Gue berani ikut menentukan masa depan Indonesia di hari esok. Apakah lo cukup berani untuk peduli?

Selamat merayakan pesta demokrasi, guys! ;) – with Zhafarina Ayu, maulana, Nadya Avitri, Dira, Diesty, Ardiyanto , Athena, Sharima, Zarra, Trisha, Sekar, Naomi, Syifa, Nadira, Aldi Wiradwipa, Rininta, Mayanov, Anindya, Ricky, Renisa, Nada, Adinda, Naufall, Brigitta, Nabilla, Haritsya, Damar, Nabila, Rafid, and Raisa

View on Path

Maya oleh Ayu Utami (kutipan)

Aku mencintai dia dengan cinta seorang perempuan pada lelaki yang luka. -hlm. 15

Baginya cukuplah ia punya agama; semua orang normal di Indonesia berlangganan agama. -hlm15

Suara-suara dari luar memang membuat kita tuli untuk mendengar suara-suara dari dalam. -hlm. 20

Meskipun itu artinya orang suka memberi daripada menerima…. Khususnya dalm hal kata-kata. Hehe. Itu juga berarti orang lebih suka menerima daripada memberi…. Dalam hal perhatian. -hlm. 21

Bagaimana aku bisa mengakui dosa-dosaku dan membukakan harapanku? -hlm. 22

Ada dua hal yang membuatmu kebal santet. Hati yang murni dan rasa humor. Ilmu hitam tak akan mengenai orang yang melihat dunia dengan lucu. Lebih mudah memiliki humor daripada hati murni. Tapi berusahalah agar hatimu murni. -hlm. 53

Adakah waktu yang tepat bagi kejujuran? -hlm. 92

Bahkan yang paling rupawan di tempat ini pun tidak normal. Lalu, apakah normal itu. -hlm. 103

Tapi, sekali kau memberi makan keserakahan, keserakahan itu tak akan bisa kenyang. -hlm. 105

Tapi saya sudah diperingatkan oleh ayah saya bahwa saya tidak boleh membodoh-bodohi orang lain, apalagi guru. Biarpun saya lebih pintar. Jadi saya diam saja. Meskipun itu terasa aneh : bukankah saya membiarkan kesalahan? -hlm. 130

Apakah harga seorang manusia? -hlm.210

Kepercayaan adalah bagian dari yang membuat manusia hidup. Kepercayaan bahkan bisa menghidupkan manusia yang sudah mati. -hlm. 232

Tidak semua mata tahan dengan terang pengetahuan. Tak semua bunga bisa dipetik dan dihidangkan dalam vas. -hlm. 243

image

Review : Novel Maya oleh Ayu Utami

Pramoedya Ananta Toer dan Ayu Utami sudah punya tempat di hati gue. Gue terlalu cinta sama mereka sampai-sampai apapun yang mereka tulis akan gue nikmati dan lolos dari kritik apapun. Gue nyaris puas. Mereka nyaris sempurna.

***

Sesuai dengan niatan pada Kalender Baca 2014, tidak hanya menuntaskan sebuh buku, gue juga menuliskan review kecil-kecilan. Pada bulan Januari ini, mestinya review pertama gue tulis untuk novel Maya oleh Ayu Utami. Eh tapi gue baru inget belum mereview novel Cinta.. Masih banyak lagi sih buku yang blum gue review. Senja di Jakarta nya Mocthar Lubis menyusul ya, wan-kawan ;)

Seperti yang sudah gue tulis di paragraf pertama, Ayu Utami selalu lolos dari kritik gue. Mungkin sebetulnya memang gue saja yang tidak mampu mengkritik. Belum saatnya. Juga gue sudah terlanjur jatuh cinta secara buta. Maka pada review ini gue akan teriak-teriak senang dan menulis kutipan-kutipan yang gue suka. Ahey! ;)

***

Tertulis pada sinopsis di sampul belakang, novel ini berlatarkan peristiwa reformasi. Tapi tunggu dulu, kalian nggak akan menemukan adegan demo mahasiswa yang bikin jantungan seperti yang dialami Lintang pada novel Pulang karya Leila S Chudori. Soalnya bro, tokoh yang diangkat di novel ini adalah tokoh lama, Yasmin dan Saman, tokoh yang dulu asik menghiasi dwilogi Saman dan Larung.

Maya terbagi menjadi tiga bab besar, Kini, Dulu, dan Kelak. Pada bab Kini dan Kelak, kita akan tinggal di padepokan Suhubudi. Pada bagian inilah diungkap apa dan bagaimana isi padepokan tersebut. Secara, di Bilangan Fu dan Manjali dan Cakrabirawa kita mengenal rumah Parang Jati ini sebagai tempat spiritualitas Jawa yang misterius. Ketika membaca dua bab ini, gue sibuk menganggukkan kepala dan ber-oh-ria.

Pada bab Dulu, kita diajak nostalgia! Jengjeng, sudut pandang beralih ke Saman, jauh sebelum Saman mengenal Yasmin, masa dimana namanya masih Wisanggeni. Bagian ini memang agak mengulang dari isi novel Saman, tetapi di dalamnya kita temukan juga kisah dan pengertian yang baru. Seperti tentang Saman yang pernah mengunjungi padepokan Suhubudi hingga mendapat cenderamata dari Parang Jati kecil. Juga lenih dalam tentang perasaan Saman terhadap Upi.

Oh God!! Parang Jati kecil menggemaskan sekali! Kepolosannya, gerak-geriknya, bahkan dari kecil sudah punya mata malaikatnya itu. Sebagai goodboy (beda sama si Yuda), Parang Jati jelas punya caranya sendiri untuk menarik perhatian.

***

Yang agak gue sayangkan pada novel ini adalah ketiadaan Yuda dan Marja. Ih, gue kangen sama dua anak itu :( Memang harus tidak ada sih, karena mereka baru bertemu setelah reformasi.

Menghilangkan kekecewaan karena tidak bertemu dengan Yuda maupun Marja, tokoh Yasmin dan Saman sebagai sentral cerita membuat gue berharap akan bertemu dengan sosok-sosok gila Cok, Shakuntala, dan Laila. Yasmin tanpa mereka sungguh tidak lengkap. Barangkali memang pada novel ini, Ayu Utami ingin memperkenalkan sisi lain tokoh-tokohnya. Adanya cerita tentang penghuni-penghuni padepokan cukuplah mengobati kangen pada tokoh-tokoh lama.

Para penghuni padepokan menjelaskan kepada pembaca bahwa ketidaksempurnaan memiliki kesempurnaannya sendiri. Terutama tokoh Maya, ia mengajarkan keindahan di luar pengertian umum yang tidak kalah indahnya. Tidak mungkin tidak terharu ketika membaca bagian di mana  Maya menyadari keindahannya yang berbeda dengan keindahan para perempuan berkaki panjang. Betapa kita mesti mampu bersyukur dan menikmati apa yang sudah ada pada diri kita, guys :’)

***

Manjali dan Cakrabirawa punya kelincahan seorang gadis muda yang tulus dan manis. Lalita penuh dengan kerumitan tokoh perempuan yang sudah kenal dunia dan haus perhatian. Maya diisi dengan potongan-potongan pengalaman pendewasaan seseorang. Senang sekali membaca seri Bilangan Fu karena sejauh ini Ayu Utami tidak terjebak pada emosi yang sama sehingga di tiap buku ada pengalaman yang berbeda. Pr nya sekarang adalah bagaimana Ayu Utami bisa mempertahankan semangatnya dalam menulis hingga ke seri ke-12.

Gue nulis alur cerpen aja setengah mati, ini lagi bikin novel berkelanjutan 12. Dikata komik…. Salut banget sih. Gue mendoakan semoga semangat menulis Ayu Utami tetap terjaga hingga buku ke-12.

***

Seri Bilangan Fu yang selalu bercerita soal pusaka nusantara dengan kearifan-kearifan lokal di dalamnya adalah buku yang selalu gue rekomendasikan kepada teman-teman. Fix kan, males nyari sendiri tentang sejarah-budaya Indonesia yang nggak ada di buku pelajaran? Tapi nggak mau juga kan dibilang omdo ketika bicara soal cinta Indonesia? Makanya baca buku ini, setidaknya perlahan-lahan memperkenalkan kepada kalian tentang apa dan bagaimana Indonesia.

Gue juga menyenangi seri ini, karena setiap habis membaca gue pasti akan ngobrol sama bokap tentang isi bukunya dan bokap akan cerita banyak tentang kejadian-kejadian zaman dulu. Maklum, saksi hidup sih. Bokap lahir tahun 1953. Tinggal di Salemba pula. Mulai dari G30S sampai demo 98, ngerasain langsung.

Omong-omong, kutipannya ditulis di post selanjutnya deh ya, kalau di sini kepanjangan.

Selamat membaca Maya!

-trika

Review : Novel Cinta. (baca: cinta dengan titik) Oleh Bernard Batubara

Betapa media sosial mempermudah kita untuk bisa mengenal -lebih tepatnya menguntit- seseorang.

Gue mengenal nama Bernard Batubara dari twitternya, @benzbara_. Seperti yang sering terjadi, sedikit banyak twitter membuka pintu untuk mengenal seseorang. Well, sekarang ini media sosial lebih cocok dengan nama media nge-stalk. Iya, nge-stalk. Tentu lebih keren ketimbang disebut media menguntit, kan?

Dari twitter, gue tahu dan kemudian membaca blognya beberapa kali. Sejauh membaca blognya, Kak Bara punya cara bercerita yang ramah. Membaca review-review buku yang ia tulis seperti sedang ngopi dan ngobrol dengan seorang teman.

Novel terbarunya, Cinta. (baca : cinta dengan titik) sudah terbit dari Agustus. Penasaran, tapi sayangnya gue nggak pernah cukup rela mengeluarkan uang untuk novel teenlit/ metropop, kecuali untuk nama-nama penulis yang sudah gue ketahui kualitas menulisnya. Pucuk dicinta, ulam pun tiba, seorang teman menjadikan novel ini sebagai kado untuk gue. Hehe…

Oh iya, sebelum memulai review, gue mengeneralisir bahwa yang baca teenlit atau metropop dan sebangsanya adalah perempuan.

***

Seperti novel teenlit lainnya, novel yang satu ini punya kekuatan untuk membuat pembacanya senyum-senyum sendiri. Seklise apapun itu, gombalan novel teenlit akan selalu mampu memancing reaksi pembacanya. Perempuan mana sih yang nggak seneng digombalin? Tentu saja membaca novel ini dipenuhi juga oleh perasaan kesal, marah, dan haru sebagaimana seorang pembaca terseret arus cerita.

Sayangnya, pada novel ini cerita berjalan begitu cepat. Ada titik di mana gue teriak-teriak penuh emosi, terbawa klimaks cerita. Tapi sesudahnya, “lah, begini aja? Yakin ceritanya sudah selesai?” Sudut pandang pada novel ini didominasi oleh Nessa, sosok perempuan yang kalem dan sederhana. Apa karena pembawan karakter yang kalem dan sederhana maka cerita jadi terasa cepat berlalu tanpa banyak memberi kesan?

Sejujurnya gue kurang menyukai tokoh Nessa. Gue tidak melihat tokoh utama wanita ini punya pendirian. Gue nggak melihat ada keputusan yang Nessa ambil karena itu kemauannya sendiri. Dari awal sampai akhir, gue melihat Nessa sebagai tokoh yang bingung. Mungkin memang penulis ingin menunjukkan konflik batin, tetapi menurut gue emosinya tidak tergambarkan dengan tegas. Sebetulnya juga, gue membaca buku ini penuh emosi karena kesal pada sosok Nessa yang seperti kebingungan sendiri.

Pun tokoh utama prianya, Demas. Penuh keraguan dan sulit memutuskan. Setidaknya keputusan dia masih berdasarkan keinginannya sendiri.

Untungnya tokoh-tokoh pembantu punya karakter yang cukup kuat. Ada Endru, si badboy yang gue yakin jadi banyak tokoh favorit pembaca lain. Ada ayah yang lewat penuturan Nessa dan adegan-adegan kecil menunjukkan sesosok ayah penuh perhatian. Gemash :3 Tokoh Bian, sahabat dari Nessa juga punya karakter khas tokoh pembantu wanita. Heboh dan punya kehidupan cinta yang lebih stabil dari tokoh utama. Gue agak menyayangkan adegan di mana Bian mengkonfrontasi Nessa. Perasaan kecewanya sedikit terlalu berlebihan, membuat gue bertanya-tanya, seorang sahabat mestinya hadir sebagai sosok yang berkepala dingin dalam menyelesaikan masalah si tokoh utama, bukan?

***

Di luar itu, gue cukup menyenangi bahasa Kak Bara yang puitis. Mungkin gue terjebak pada standar novel teenlit dan metropop yang bahasanya sangat sehari-hari. Dari segi cerita dan tokoh, beberapa novel bisa jadi lebih bagus, tetapi keindahan bahasa pada novel Cinta. sejauh ini belum pernah gue temukan di novel sejenis.

Banyaknya puisi -kutipan atau buatan sendiri- juga hal yang baru gue temukan di sebuah novel teenlit. Sesuatu yang segar dan menambah kekuatannya sebagai novel yang bercerita tentang cinta.

***

Novel Cinta. (baca: cinta dengan titik) buat gue adalah lagu pop yang perlu diketahui untuk menambah pengetahuan tanpa harus mendengarnya berkali-kali karena mendengarnya berkali-kali tidak memberi pengertian yang baru. Ini masalah selera sih, gue lebih menikmati tulisan yang dramatis karena pada hal yang dramatis, gue menemukan hal baru. Tapi kalau kalian memang suka baca teenlit, buku ini bisa jadi salah satu buku wajib baca. Apalagi kalau kalian suka sesuatu yang halus dan manis.

***

“Cinta membuatmu menjadi seseorang yang bodoh.” -hlm. 291

Sebete apapun gue pada kedua tokoh utama novel ini, kalimat di atas membuat gue mentolerir kebimbangan dan keraguan Nessa dan Demas yang nggak jelas. Siapa sih yang berani bilang bahwa cinta tidak pernah membuat mereka kesusahan? Bahkan dengan prinsip sekuat apapun, sesekali, cinta mesti mampu menggoyahkannya. Setuju, tak?

-trika

Rencana Pertama 2014 : Kalender Baca

Berhubung akan menghadapi segala macam ujian (3x Try Out – Ujian Sekolah – Ujian Praktik – Ujian Nasional – belum lagi kalau mesti juga tes tertulis SBMPTN dan SIMAK), gue membereskan buku-buku di rak. Lebih tepatnya mengkarduskan buku-buku di rak dan menggantinya dengan buku ringkasan SMA dan soal-soal latihan Ujian Nasional maupun SBMPTN. Sungguh tersiksa sekali memilih sedikit buku untuk tetap diletakkan di rak bilamana tiba-tiba gue butuh hiburan.

Ketika membereskan buku-buku tersebut, barulah gue sadar bahwa BANYAK sekali buku yang belum gue baca. Sungguh pemborosan yang amat sangat. Betapa dosanya gue kepada kedua orangtua. Kemudian, bagaimana pula caranya menyelesaikan banyak buku di tengah kesibukan menghadapai segala macam ujian itu? :’(

Kebetulan kemudian, gue membaca tulisan di blog Bernard Batubara (www.bisikanbusuk.com) tentang Kalender Baca 2014. Oh! Inilah jawaban dari Tuhan untuk pertanyaan gue. Dengan Kalender Baca 2014, setidaknya dua belas buku bisa gue selesaikan. Juga kalender ini akan menstabilkan iklim membaca gue, jadi ketika selesai UN pun, kemampuan baca gue tidak akan berkurang.

**

Sesungguhnya sejak kelas dua, kemampuan baca gue menurun drastis. Sibuk mengerjakan tugas-tugas esai dan presentasi yang menggunung, plus menjadi pengurus aktif di OSIS dan ekskul science. Terhitung 1,5 tahun sejak kelas 2 – semeter1 kelas 3, gue hanya berhasil menuntaskan sedikit buku. Cukup banyak yang gue baca, tapi dengan otak yang sungguh skip. Buku-buku yang berhasil gue tamatkan dengan cukup pengertian hanyalah Senja di Jakarta oleh Mochtar Lubis, tiga buku Ika Natassa (A Very Yuppy Wedding, Divortiare, Antologi Rasa), Maryam oleh Okky Madasari, Lalita oleh Ayu Utami, dan Kelakar Tanpa Batas oleh @notaslimboy. Cuma tujuh buku? Astaga! Padahal kalau dihitung, jumlah buku yang terbeli tanpa sempat gue baca ada 50-an jumlahnya.

Maka Kalender Baca 2014 memang akan sangat membantu gue membangun disiplin baca. Beberapa bahkan sudah dibeli dari tahun 2011 (Dunia Sophie, Di Sekitar Sajak, dan Blind Willow Sleeping Woman) dan belum sempat di baca. Beberapa gue beli di akhir tahun 2013 (Manusia Indonesia dan Bartleby The Scrivener). Sisanya gue beli di tahun 2012-an.
image

**

Tidak hanya membantu gue menjadwalkan buku-apa-mesti-selesai-kapan, kalender ini juga akan menciptakan disiplin menulis karena setidaknya buku yang ada pada Kalender Baca 2013 akan gue tulisi review-nya. Ya, barangkali hanya mampu membahas secara ringan, mengingat posis gue masih pada penikmat, belum mampu jadi pengamat. Tapi menulis tetaplah menulis. Menulis membutuhkan suatu proses berpikir. Menulis memaksa gue untuk membaca makna ketimbang kata.

**

Segudang rencana sesungguhnya mudah dibuat. Realisasinya lah yang paling sulit. Tapi setidaknya, rencana akan mampu menuntun kita.

Kalo Kalender Baca 2014 lo, mana?

-trika