Di Senja Menuju Kenangan

Kasih, di mana kau?
Mengapa tak temaniku habiskan senja
Jangan cepat-cepat
Biar detik membunuh dirinya sendiri, Kasih

Kasih, kudengar suaramu
Mengantar
Tidurku
Pesonamu merebak
Membanjiri peluhku
Lara
Bergema

Kau ada di sampingku
Mengeja masa jaya kita, Kasih

Rapi di pigura
Kau tercetak di hati

Puisi di atas terinspirasi dari potongan kisah tentang Mochtar Lubis. Potongan kisah itu bisa kalian baca di buku karya Rosihan Anwar. Ini potongan kisahnya :

Sejak hampir dua tahun dia mengidap penyakit alzheimer, dan belakangan ini nyaris tak mengenal orang yang terdekat dengannya.

Sejak istrinya, Halimah, tutup usia pada 27 agustus 2001, dia kehilangan orang yang sangat dicintainya. Sunyi. Apabila melihat Halimah sedang tak ada, Mochtar terus bertanya, “Di mana Ibu?”

Dalam pertemuan para wartawan senior, ketika sedang makan, tiba-tiba Mocthar berkata, “Kau dengar suara itu, suara Hally?”

Damn. Setiap membaca tiga paragraf itu rasanya selalu sakit. Sedih yang perih.

Dan cerita personal seperti ini membuat saya terenyuh. Si penulis Harimau! Harimau! ini juga sama manusia seperti saya. Kadang saya lupa kalau nama besar pun yang punya juga manusia.

Juga jadi diingatkan diri ini kalau cinta masih ada di dunia.

Terima kasih, takdir.

trika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s