Beberapa Album yang Akan Selalu Saya Hafal Rasanya

Sebagai manusia yang jarang membeli album fisik/ nonfisik, saya mengandalkan radio, tv, dan kemudian internet untuk mengonsumsi musik. Ya. Kemudian juga punya love-hate relationship dengan adegan download lagu secara ilegal sebab merasa bersalah. Tetapi juga seringnya tak kuasa menyisihkan sebagian harta untuk ditabung. Makanan dan jajanan nomor satu. Sedangkal itulah otak dan perut saya. Serakus itu. Haft.

Meski begitu, ada masanya frekuensi saya (atau keluarga saya) membeli album fisik meningkat. Beberapa diantaranya menurut telinga saya sungguhlah sangat menarik, menyenangkan, dan membuka pikiran. Anehnya, tentang masing-masing album yang akan saya tulis di bawah ini, tidak bisa saya unggapkan keistimewaannya. Barangkali karena sifat keistimewaan tentang mereka terasa personal. Memandang dari bocah ingusan yang hanya mengklasifikasikan lagu ke dalam “lagu enak dan tidak enak”, berikut adalah daftar album yang  keindahannya mempengaruhi musikalitas saya. Diurut acak.

  1. Vakansi oleh White Shoes and The Couples Company (2010)Untuk seorang anak SMP yang terbiasa mendengar lagu Top 40, album ini mengguncang. Bunyi yang oldies, lagu-lagu yang seluruh unsurnya sama menarik, sama asik, dan sama penting hingga akhirnya tercipta satu karya utuh. Dari album ini saya belajar bahwa mendengar lagu tidak sekadar ikut bergoyang, tapi bisa juga didengar seksama untuk dipecah, lalu ditelan menjadi satu yang harmonis. Satu yang manis.
  2. Komposisi Delapan Cinta oleh Ubiet dan Dian HP (2011)Lagi-lagi, untuk bocah SMP yang sedang asik mengidolakan soundtrack Step Up 1-2-3 (masih sampai detik ini), lagu-lagu di album Komposisi Delapan Cinta membuka pandangan saya tentang puisi, musik, dan musikalisasi puisi. Berawal dari ajakan ibu menonton pertunjukkan musik di Salihara pada sebuah senin yang penuh cinta (baca: hari valentine), saya menikmati suguhan Ubiet dan Dian HP dengan excited dengan sedikit rasa kantuk yang ikut campur. Ibu yang kemudian kekeh untuk membeli albumnya di booth merchandise. Tapi sayalah yang kaget lalu jatuh cinta setengah mati pada pendengaran kedua. Pilihan-pilihan nada Ubiet yang lincah, permainan musik yang kawin dengan tiap kata, tiap makna; album ini menyihir jiwa.
  3. The Comfort of My Own Company oleh Mian Tiara (2010)AAAAAAAAAAAHHHHH ! !
    Album yang setiap lagunya pasti nongol, tersebar di tiap playlist pribadi saya. Membagi keberagaman emosi yang ketika mendengarnya reaksi saya hampir seperti ketika sedang membaca buku yang kewl. “Anjir. Ini gue banget.” Dan perlu satu dua detik mencari jarak untuk meredakan kekagetan.Masih dari booth merchandise seusai pertunjukkan musik di Salihara, pada tahun itu saya menonton pertunjukkan musik oleh Mian Tiara dan Jemima. Lupa apa yang dirayakan atau tema dari pertunjukkan tersebut, tapi tak akan lupa saya pada aksi nyeker Mian Tiara di panggung. Ini nyeker yang peeenuh dengan kesadaran. Ditemani dengan kesederhanaan seuntai long dress dan tatanan rambut yang sederhana saja. Duh. Kalau berdasarkan perbincangan yang lagi hip di website-website fashion, barangkali kecantikannya saat itu termasuk dalam parisian beauty.

    Kecantikan jiwa Mian Tiara, buat saya pribadi, terbukti tak sekadar pesona panggung semata. Album yang didengar seusai pertunjukkan tetap mampu mengombang-ambingkan jiwa saya dalam emosi yang tidak bisa dibantah. Jenis-jenis lagu yang cuma bisa saya dengarkan ketika sedang sendiri sebab tiap alunan melodi memaksa saya untuk bergerak dalam irama yang lepas dari arti. Ia makna. Hidup adalah makna. Hidup adalah tarian kontemporer. =)))

  4. Berjalan Lebih Jauh oleh Banda Neira (2013)Sebab tak cukup lantunan EP di soundcloud. Mesti ada album perdana diluncurkan fisiknya. Dan oh tak ada kecewa diri ini menanti datangnya album perdana dari duo nelangsa-pop, Banda Neira. Sejak pendengaran pertama di akun soundcloud mereka, saya tahu akan sangat menyenangkan menyimak musik mereka sebab di situ jatuh juga jiwa mereka. Tetes demi tetes.Album ini tidak serumit tiga album yang saya sebutkan di atas. Nyaman barangkali adalah kata paling tepat menggambarkan isi album ini. Pilihan nada gitar dan vokal sederhana dan bersahaja. Tampaknya penekanan memang ada pada lirik. Motivasi dalam bentuk puisi yang menggelitik dan mengedukasi. #HALAHTapi serius ini.

    Musikalisasi puisi Rindu membuat saya penasaran kepada Soebagio Sastrowardoyo. Lagu Ke Entah Berantah membuat saya ingin melarungkan diri. Ditutup dengan lagu Mawar…. Mati saya dengerinnya. Asli! Dan matinya bahagia. Dikutuk diri saya untuk selalu merinding tiap kali mendengar alunan lagu ini. Dari detik paling pertama sampai detik paling akhir. MIND BLOWING. Sekian.

  5. Happy Coda oleh Frau (2013)Bersyukur adalah hal yang segera saya lakukan setelah mendownload album ini. Untuk sekali saja, album ini membebaskan saya dari love-hate relationship dengan adegan mendownload musik sebab bisa gratis secara legal. Hehe. #bahagiaitusederhanaYang paling menyenangkan dari album Happy Coda adalah permainan pianonya. Halus, juga penuh kejutan. Manisnya saya bayangkan seperti sosok manusia happy-go-lucky.
  6. Roekmana’s Repertoire oleh Tigapagi (2013)Epic.
    Yang membuat saya sangat amat terdorong untuk membelinya pada pertemuan pertama adalah kabar bahwa seluruh lagu di dalam album ini terjalin dalam satu file yang sama. Tidak ada kosong lalu lalang selama satu atau dua detik. Seluruhnya adalah kata  dan nada yang tak mau putus berbincang dengan pendengarnya.

    Alang-alang (pada 00:00) dan Tangan Hampa Kaki Telanjang (27:43) adalah dua yang paling saya jagokan. Mereka berdua paling paling saya cintai. Satu lirikan pada baris pertamanya cukup bagi saya untuk bisa menyenandungkan lagu tersebut. Luv :*

  7. Jamie Cullum’s
    Heard It All Before (1999). Pointless Nostalgic (2002). Twentysomething (2003). Catching Tales (2005). The Pursuit (2009). Momentum (2013). Interlude (2014).

    Yang satu ini adalah bagian dari hidup. Meski belum berkesempatan saya untuk membeli satu pun album fisiknya. Meski tak pernah sempat saya menonton langsung walaupun dua kali sudah ia ramaikan perhelatan Java Jazz Festival. Tapi ini cintaku.

    Pertama kali mengenalnya lewat album Catching Tales dan Twentysomething. Hasil dari rasa penasaran pada koleksi musik milik bapak seorang teman. Sungguh berpahala hidup teman saya dan bapaknya telah mempertemukan saya dengan musik yang kehebatannya membuat kelu lidah.

    Jamie Cullum yang memperkenalkan saya pada dunia jazz. Pada improvisasi musik. Pada kreativitas dalam mengaransemen lagu. Pada orisinalitas dan keunikan diri. He’s a very high-spirited musician. And he can be so sweet, he break my heart. Mau maki-maki dunia yang semu dan dangkal ini? Hayuk! Mau berdansa menikmati hari dan semesta? We shall. Perbincangan setengah sadar dengan Tuhan? Boleh. Mau mengekspresikan cinta yang kedalamannya merapuhkan sekaligus menguatkan diri? Sini, dengarkan Jamie Cullum beraksi.

    Keseluruhan, Twentysomething menurut saya paling ngena. Barangkali karena kejujurannya yang menyindir tidak peduli. Barangkali karena saya merasa pernyataan sikap terhadap dunia di dalam album ini tidak henti di permukaan.

    Tapi tetep, sih. Semua hasil karya beliau menakjubkan dan selalu menunjukkan hal baru. Cek saja programnya “Song Society” di Youtube. He’s truly brilliant.

 

Itu tadi adalah album-album terbaik menurut telinga saya. Kena mereka di jiwa-raga. Hiburan yang membuka dan mendorong pengetahuan dan kemampuan saya dalam bermusik. Karya-karya yang membuat saya berani memanjat dinding kekosongan, merubuhkan tembok kemustahilan. Selangkah demi langkah. Sedikit demi sedikit. Semoga, diiringi mereka, perjalanan jadi makin asik. Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s