Sebuah Sore

Aku ingin jadi asing yang gagal kau pedulikan di perjalanan pulang sebab kau  tengah asik bermanja pada kasih sayang yang gagal aku sediakan.

Bagaimana memberi pengertian tentang aku yang tidak menginginkanmu dan tidak ingin orang lain menginginkanmu. Mungkinkah kau jadi sepatu yang begitu cantik, orang-orang tak berani menginginkanmu? Lalu aku akan jadi dungu yang tak bosan berdiri memandangimu dari pelataran toko. Kadang asik sendiri membicarakan jalannya hariku. Seringnya diam saja termangu menikmati jiwamu. Dari jauh, aku tahu kau indah. Dibuat dan dirawat dalam kasih sayang dan tumbuh jadi hati yang tak takut mengakui kebenaran.

Tapi apa itu kebenaran kecuali ikan hidup di laut dan semut bahagia tinggal di darat. Dan apa yang bisa disebut sebagai kebenaran kecuali kata dan makna belum tentu serupa. Kata dan makna bisa hidup dalam pengetahuan yang berbeda. Dan hidup bukan hanya waktu luang yang dihabiskan untuk termangu memandangi jiwamu. Sebab kau percayai pengetahuanmu, ku percayai pengetahuanku.

Bisakah kita jadi asing yang gagal mencuri waktu dari perjalanan?

Sore ini aku terjebak di kursi masa lalu. Siap lompat renangi sesuatu yang kini terasa sedih dan menyesatkan.

Aku tidak tahu, barangkali tepatnya tidak mau tahu kesedihanmu. Tapi aku tahu kesedihanku dan ingin kutelusuri kubangan sekali lagi. Sebelum kubeli bahan termurah untuk menutupimu. Lagi. Dan lagi.

Inginkah kau jadi kubangan yang ratusan kali kutimbun saat kau muncul? Atau jadi lubang yang terus membakar aku?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s