Catatan dari Luar Pagar oleh Jakob Sumardjo

Masyarakat kita paling gemar merumuskan aturan-aturan dalam seminar berhari-hari, namun setelah dihasilkan laporan rumusan lengkap dengan jungklaknya, maka nasib akan membawanya menumpuk di laci arsip, sampai kiamat tiba. -hlm. 49

Dalam otak mungkin saja kita berpikir “demokrasi”, tetapi bawah sadar masih dikuasai paternalisme, lambang phalus itu masih terlalu dominan. -hlm. 19

Memang manusia itu egonya keparat. -hlm. 24

Sukses kebendaan dianggap prestasi besar di Indonesia dan orang tak mau tahu bagaimana caranya dia bisa mencapai puncak itu. -hlm. 26

Barangsiapa mengaburkan masa lampau akan mengaburkan pula masa depan. Perspektif sejarah tidak dapat dibelokkan. -hlm. 34

Kita boleh tidak menyukai konsumerisme material, tetapi juga konsumerisme spiritual dan mental perlu dipikirkan pemecahannya. -hlm. 85

Hiduplah otentik dan engkau akan damai. -hlm. 93

Pada dasarnya seni sejati tidak pernah selesai, artinya seni sejati selalu menyimpan “misteri dan daya tarik” karena konsumennya merasa belum sepenuhnya “menguasai” makna karya rekaannya. -hlm. 188

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s