Pinggir Kota

Pinggir kota

Ada kaca jendela

Kotak-kotak rumah

Perkara ingin balon sebuah

Jalan-jalan sore pasangan tua

Pinggir kota

Ada kabel melintang

Daun berguguran

Menyapa tetangga seberang jalan

Jatuh bangun pasangan muda

Pinggir kota

Ada sepeda roda tiga

Angkot empet-empetan

Memanggil abang ojek ingin pulang

Dan
Pilu yang tak berkesudahan

     Agutus 2015

#katanyakatakata 2

Entah bagaimana tiba-tiba terpikir. Cuma Tuhan yang punya damai sebab ia hidup dalam batas milik-Nya yang entah apa. Cuma ia yang maha segala-galanya. Ada malaikat yang katanya begitu baik. Dan iblis yang katanya begitu jahat. Dan manusia yang katanya punya pilihan. Mau jadi malaikat atau jadi iblis? Tapi semalaikat apapun, manusia tidak sempurna. Tidak ada gading yang tak retak. Tidak ada manusia yang sungguh malaikat. Tidak juga sungguh iblis. Sebab pintu nurani cuma perlu diketuk dengan tempo yang tepat. Tidak sesingkat-singkatnya, tapi juga tak terlalu lama sebab manusia bukan patung yang bisa berdiam tanpa rasa gatal. Sebab patung ada batasnya. Tapi manusia punya batas yang berbeda.

Dan batas manusia adalah maha. Manusia bisa mengartikan maha dengan segala macam rupa, tapi cuma Tuhan yang maha. Segala-galanya. Sebab manusia bukan pengertian. Ia tidak bisa menjadi pengertian. Ia ciptakan pengertian. Agar ia tenang sedikit.

Setidak-tidaknya ia bisa jadi tuhan kecil bagi dirinya sendiri. Atau keluarganya. Atau teman-temannya. Atau desanya. Kotanya. Negaranya. Benuanya. Dunianya.

Dunia kecilnya.

Permainannya.

Siapa yang mau kita bodohi?

Berkaca Pada Apa

Ia mematut diri
Di cermin terbelah dua
Entah apa siapa
Sesuatu menghisapnya

Ia mematut diri
Di cermin hilang sebagian
Entah oleh karena
Sesuatu menelannya

Ia mematut diri
Di cermin lebih dari seharusnya
Entah ingin perlu
Sesuatu menyesapnya

Ia dan cermin
Di muka coreng habis rupa
Di muka membunuh hati
Di duka lindungi luka

00:45.7Meret2015.

tertanda penuh rasa, trika.

Buat Kamu, Dia Itu Apa?

Dia itu laki-laki yang membuat luka terbuka lagi. Luka yang sungguh pun belum utuh saya kabur dari itu.

Dia itu laki-laki yang membuat saya mencintai Tuhan atas kuasanya menciptakan manusia. Semudah itu Tuhan menciptakan senyum yang menawan.
Dia itu laki-laki yang membuat saya ingin menatap matanya dan bertanya, “ada apa?”
Dia itu laki-laki yang membuat saya menyadari bahwa senyum adalah hal sesederhana terang dan serumit gelap.
Dia itu laki-laki yang membuat saya menyadari bahwa gelap bisa jadi lebih sederhana dari terang.
Dia itu laki-laki yang membuat saya ingin tertawa untuknya.
Dia itu laki-laki yang membuat saya ingin menangis untuknya.
Dia itu laki-laki yang membuat saya ingin bersabar sepanjang malam mendengar ceritanya.
Dia itu laki-laki yang membuat saya ingin membagi cerita-cerita tidak penting.
Dia itu laki-laki yang membuat saya takut untuk mengenalnya. Sebab mengenalnya bisa-bisa membuat saya jatuh ke kedalaman.
Dia itu laki-laki yang membuat saya sudah cukup senang bila semeja saja.
Dia itu laki-laki yang membuat saya sudah cukup senang bila melihat dia berinteraksi dengan orang lain.
Dia itu laki-laki yang membuat saya setengah mati bingung ketika berhari-hari tidak melihatnya.
Dia itu laki-laki yang membuat saya salah tingkah. Sesederhana itu, sungguh.
Dia itu laki-laki yang membuat saya percaya bahwa baik tak perlu kemasan yang sempurna.
Dia itu laki-laki yang membuat saya mengingat masa lalu.
Dia itu laki-laki yang membuat saya bertanya apakah kali ini saya menuju masa depan?
Dia itu laki-laki yang membuat saya terjebak dalam waktu. Seperti memasuki ruang hampa dan jadi penonton yang tertawa.
Dia itu laki-laki yang membuat saya ingin terus menatap matanya.
Dia itu laki-laki yang membuat saya tak ingin dibalas tatap matanya.
Dia itu laki-laki yang membuat saya ingin mengupas tawanya, menguliti senyumnya, lalu membantunya menopang beban di pundak.
Dia itu laki-laki yang membuat saya ingin berkata bahwa tak perlu berlari dan menolak diri. Saya ada di sini kalau kamu tak sanggup mempercayai siapa diri kamu.
Dia itu laki-laki yang membuat saya ingin tahu apa pendapatnya tentang hal-hal yang ada di dunia ini.
Dia itu laki-laki yang membuat saya tidak ingin memalingkan pandangan.
Dia itu laki-laki yang membuat saya setengah mati berusaha untuk tidak menatapnya.
Dia itu laki-laki yang membuat saya mau menanti. Sesederhana ikhlas yang dengan hati.
Dia itu laki-laki yang membuat saya seperti bertemu lagi dengan cakrawala. Ada dan tidak tergapai.
Dia itu laki-laki yang membuat saya tak tahu menanti apa.

Dia itu laki-laki.
Dan sungguh meski ini seperti sebuah kebohongan, saya tak sedang jatuh hati.

Dia itu laki-laki yang membuat saya ingin membohongi diri sendiri.

Terserah kamu mau menamai ini apa, tapi sungguh saya tak sekadar jatuh hati. Tolong jangan diseriusi, sebab hidup cuma sekali. Dan kita cuma pemain yang sedang main-main di panggung duniawi.

tertanda penuh rasa, trika.

Siapa Mau Baca Corat-coret yang Harus Dibayar Tuntas?

Tentang Bunga yang Sampai

Hatimu telah layu
Kering, kering cintamu
Bunga yang kukirim takkan mampu
Mengembalikan nuranimu

Hatimu telah layu
Kering, kering cintamu
Bukan salahku cintamu jatuh
Hati-hati bila jatuh hati

Kau kehilangan, tapi aku yang lebih sakit
Kau bisa lari, tapi aku yang menghadapi
Kau boleh menyesal, tapi aku yang tak bersalah
Dan kau boleh lari, tapi aku yang menghadapi

Luka ini
Pemimpi yang tak terpatah
Yang kau cintai
Jangan lagi salah memilih

Bunga yang kau kirim untuk dirimu
Takkan mengobati, apa lagi?
Lusinan bunga di dalam genggaman
Takkan mampu gantikan yang hilang.

Kalau di tulisan  sebelumnya gue menuliskan lirik yang terinspirasi dari novel karya Bernard Batubara, di tulisan kali ini gue menuliskan lirik yang terinspirasi dari cerpen karya Eka kurniawan berjudul “Siapa Kirim Aku Bunga?”

Hayoo, siapaaa?

Hal-hal yang menginspirasi biasanya adalah hal-hal yang kita ketahui dan pengetahuan itu secara tiba-tiba menjajah otak kita. Siapa Kirim Aku Bunga? adalah salah satu hal yang setelah membacanya menjajah otak gue, seperti cerpen lain Eka, “Corat-coret di Toilet” atau dua novelnya yang liburan ini gue baca, “Seperti Dendam, Rindu Harus dibayar Tuntas” dan “Lelaki Harimau”.

Ya, gue mau sekalian curcol tentang si Eka Kurniawan ini.

Sejak SMA dan mencoba lebih mengamati perkembangan sastra Indonesia, gue beberapa kali melihat nama Eka Kurniawan. Tapi tak menemukan bukunya di toko buku. Memang niat gue mencari juga tidak sekuat itu, selain dari rasa penasaran, “Cantik Itu Luka covernya kayak apa dah?”

Sampai pada suatu hari gue membaca nama Eka dan blognya di tweet Aan Mansyur. Setelah itu gue cukup ketagihan membaca blog beliau. Isinya bagus dan informatif. Informatif terutama untuk jadi bahan sotoy2an gue. Nyahahaha~~

Di ulang tahun ke-40 Gramedia Pustaka, barulah gue berkenalan dengan cerpen Eka, lewat kumcernya Corat-coret. Januari kemarin baru akhirnya membeli dan baca Seperti Dendam. Dan hari ini baru selesai membaca Lelaki Harimau hasil pinjaman. Well, sebetulnya gue juga sudah menemukan Cantik Itu Luka di perpustakaan, tapi kok melihat ketebalannya aku jadi jiper duluan ya…. Tampaknya Cantik Itu Luka boleh juga dijadikan tantangan untuk ditaklukan bulan ini.

Membaca Eka Kurniawan memberi banyak kejutan buat gue. Karya sastra Indonesia yang gue baca memang belum terlalu banyak, jadi mungkin tak mengherankan kalau tulisan Eka membawa angin tersendiri bagi koleksi bacaan gue. Membaca tiga bukunya, gue menyimpulkan bahwa Eka berhasil mengangkat hal-hal sederhana menjadi hal yang unik dan terasa penting untuk dibaca.

Seperti Dendam mengejutkan gue dengan ide dasarnya. Perkara laki-laki yang tidak bisa ereksi. Sesederhana itu. Tetapi ketidakmampuannya untuk ereksi membawa gue berpetualang ke dunia perkelahian laki-laki, sedikit silat, ego laki-laki, dan tentu saja dunia para supir truk. Demi Tuhan, sekalipun sudah biasa melihat dan merasakan kondisi jalan Pantura yang penuh truk dan bis di malam hari, membaca bagaimana aksi kebut-kebutan di novel ini membuat gue jantungan! Bahkan saking tegangnya, gue berniat untuk melewati bagian itu. Tapi setelah dipikir-pikir akhirnya gue membaca aksi kebut-kebutan itu. Dan ya, jantungan banget euy bacanya –‘

Lelaki Harimau memukau gue dengan kisah pembunuhan yang membawa gue berkelana ke masa lalu sebuah keluarga. Eka yang memberi tempat bagi masing-masing anggota keluarga untuk bercerita membuat gue hanyut di tiap tokoh. Terutama Komar dan Margio. Membaca karya Eka nampaknya membuat gue berpikir ulang dan banyak bersimpati kepada tokoh-tokoh pria. Hal lain yang mengejutkan gue adalah cerita antara Nuraeni dan Anwar Sadat. Energi sensual yang dihidupkan Eka di bagian ini mengingatkan gue kepada Sri Sumarah nya Umar Kayam. Tentunya masing-masing dengan konteks yang berbeda dan hasil cerita yang berbeda pula. Tetapi penggambarannya yang terasa halus, penuh sipu dan malu sebagaimana umumnya perempuan, juga kuatnya penggambaran perasaan perempuan yang, mau nggak mau melting kalo dialusin laki ya heem, tertuliskan dengan cukup sempurna.

Membaca dua novel ini sekaligus mengingatkan gue pada teknik-teknik bercerita yang sering dijabarkan di blog Eka kala ia membahas penulis atau buku yang ia baca.

Pertama kali membaca buku Eka pada dasarnya adalah hal yang penuh romantisme mengenang buat gue. Yang pertama kali gue baca adalah kumcer Corat-coret di Toilet. Idenya sederhana, tapi eksekusinya bray, mantap kali. Beberapa kali akhir cerita di cerpen membuat gue ternganga. Dari Corat-coret hingga Lelaki Harimau, tiap kali selesai membacanya gue refleks mengeluarkan sumpah serapah. Siapa suruh bikin terpukau? :(

Kesederhanaan cerita-cerita di Corat-coret lah yang membuat gue ingin membaca karya-karya Eka yang lain. Rasanya tak pernah ada yang salah dari orang yang menyampaikan pesan-pesan brilian dengan cara yang simpel. Singkat, tapi padat. Barangkali pada saat itu (dan barangkali saat ini juga), gue sedang jengah membaca novel-novel penuh ungkapan nan puitis. Membaca Corat-coret sekaligus mengingatkan gue pada alasan pertama membaca sastra, kumcer AD Donggo berjudul Antara Masa Lalu dan Tali Leher.

Seperti pada bidang-bidang lain, sifat sederhana adalah hal yang pertama-tama menarik minat gue. Kalau setelah mendalami bidang itu gue kemudian melihat-lihat hal yang lebih rumit, pada dasarnya gue akan kembali pada yang sederhana dan mengingat lagi apa yang pada mulanya membuat jatuh cinta.

Corat-coret mengingatkan gue lagi bahwa ide memperluas sudut pandang pembaca lewat karya sastra adalah hal yang membuat gue mau membaca dan mempelajari sastra. Juga mati-matian berusaha nyuapin sastra ke teman-teman gue.

Bahwa sastra mengangkat hal-hal maha penting dengan cara yang lugu sekaligus bernas. Bahwa penting membaca sastra dalam rangka memperluas pandangan kita tentang manusia, kalau boleh juga tentang negara tersayang ini. Biar tidak jadi robot. Hidup di badan, mati di jiwa.

Ya, kira-kira begitulah pengalaman gue membaca tiga karya Eka Kurniawan. Dengan wawasan yang masih sempit ini, gue rasa Eka membawa angin segar dalam kesusastraan Indonesia. Cobalah baca, siapa tau tulisan beliau lah yang Anda tunggu-tunggu kehadirannya di toko buku!

Ohiya… Lirik di atas sekali itu juga gue nggak ada rekaman bagusnya. Sudah lupa juga chordnya apa…. Moga-moga segera ada waktu luang untuk ngulik dan ngerekamnya! Aamiin.

Ps : jadi pengen diskusi sama Pak Maman. Sekaligus carmuk. Yeaa nggaklah, ku mah anaknya baik, nggak suka carmuk2. #pret

tertanda penuh rasa, trika.

Yang Tercetus dari Surat Untuk Ruth

Masihkah Ada Kita

Masihkah ada tatapanmu yang menjerumuskanku
Ke dalam jurang terjal di balik matamu
Di balik matamu, masihkah?

Tiba-tiba saja harus kita bunuh rasa di dalam dada
Bagaimana mungkin melakukannya?
Apakah kamu bisa melakukannya? Sebab aku tak tahu

Dan kau tak ada
Apa yang kutunggu?
Aku tak tahu

Dan kau tak ada
Apa yang kutunggu?
Aku tak tahu

Masihkah ada kita?

Tak rindukah kau pada pagi kita?
Atau pada dingin bibir yang bertemu malam itu

Masihkah ada kita?
Kita nyaris ada

Malam ini, di sela-sela playlist yang lirih memperdengarkan diri, ada satu nyanyian yang mengangetkan gue. “Lah, ini lagu pan gua yang bikin!”

Setelah volume gue keraskan dan kemudian memperhatikan, ternyat oh ternyata itu rekaman sebuah lagu yang iseng gue bikin setelah membaca novel Surat Untuk Ruth karya Bernard Batubara. Memperhatikan liriknya, jadi ingat lagi bagaimana kesedihan tokoh-tokoh di dalam cerita menyeret gue. Jadi turut sedih, untung tidak berkepanjangan. -,-

Gue suka bagaimana kata-kata yang gue rangkai di lagu tersebut mengingatkan lagi pada kesedihan di dalam novel. Rasanya ingin membagi kesedihan itu, tapi hasil rekaman yang ada tak bagus kualitasnya. Maka di atas gue cantumkan lirik yang gue buat, terinspirasi dari Surat Untuk Ruth. Barangkali membacanya tak sesedih itu, sebab lagu bagaimana pun adalah sebuah bangunan yang tegak dari nada dan kata. Tentu membaca liriknya belum tentu menimbulkan sayatan yang sama seperti bila mendengar lirik itu dinyanyikan dengan penghayatan yang pas.

Tapi yaa, kusudah terlanjur ingin membagikan lirik sedih itu. Hahaha. Selamat membaca!

Ps : Jadi di mata seseorang itu, adakah dirimu bercermin?

Update 8 Februari 2015 :
Setelah benar-benar membersihkan kamar, gue menemukan beberapa harta karun. Salah satunya buku tulis yang tempat gue pertama kali menuliskan lirik di atas. Ternyata ada juga kutipan-kutipan dari novel tersebut yang secara khusus gue catat sebagai inspirasi untuk penciptaan lirik tersebut. Mau tahu apa saja kutipannya? Ini diaa…~

Masihkah ada kita?” -hlm 151

“Bagaimana dengan kita?” -hlm 105

“Tiba-tiba saja, aku dan kamu harus membunuh rasa yang ada di dalam dada kita masing-masing. Bagaimana mungkin kita bisa melakukannya, Ruth? Apa kamu bisa melakukannya?” -hlm 108

“Kamu menatapku. Tatapan itu seolah menyedot jiwaku hingga terjerumus ke dalam jurang terjal di balik matamu.” -bab 1

“Apa yang kutunggu, Ruth? Aku tak tau.” -hlm 159

“Tapi kamu tidak ada.” -hlm 152

Pada Dingin Bibir yang Bertemu” -judul Bab 9

Anti Mainstream

Aku ingin menjadi batu karang di tepi langit!
     *mendongak sombong*
Laut tak lagi menarik.
     *memandang remeh*
Biar aku beda sendiri!
     *memberi senyum arogan*
Sama tak selalu menarik.
     *membuang muka, lalu melangkah pergi*

28 Januari 2015

Ps : HAHAHAHAHA duh gue geli sama judulnya. Tapi cuma itu judul yang cepat dan tepat terlintas di otak. Punya judul lain? Plis? :)))

Orang Pinggir Jalan

Satu kali aku ingin jadi orang di pinggir jalan
Melihat mobil dan motor lalu lalang
Atau orang yang mau menyeberang tapi ketakutan
Sebab jalan mirip hutan rimba yang kelaparan

Saat malam sekali saat aku jadi orang di pinggir jalan
Aku akan menyeberang tanpa ketakutan
Sebab gelap melelapkan
Hutan rimba puas kenyang kekayaan

Ketika pagi aku tak mau lagi jadi orang pinggir jalan
Aku mau mendekam
Kabur dari kehidupan

28 Januari 2015